Archive for Anak

kuliah sambil “nunggu” anak kuliah

Saya ikut bangga melihat para pejabat setempat ramai-ramai aktualisasi diri, menambah pengetahuan, … kuliah lagi ke seberang pulau, bertajuk “peningkatan SDM”.
Kiprah tersebut diikuti mulai muda hingga paruh baya, kepala dinas hingga camat dan orang-orang pemerintah kota.
Siapa sih yang tidak bangga melihat para petinggi memberi contoh bagus kepada rakyatnya.
Selain gencar kampanye meningkatkan SDM, di sela kesibukannya menyempatkan belajar lagi … Hebaattt.
Salah satu anggota kloter adalah tetangga depan rumah, yang berangkat ke kampusnya di seberang pulau 3 bulan sekali.
… mungkin kuliah jarak jauh … Baca entri selengkapnya »

Comments (10)

Tahun Baru …

Ucapan selamat tahun dari sisi hubungan kemanusiaan.
Semangat baru, tantangan baru, lembaran baru dan entah apa lagi …
Walau tidak selalu baru, bahkan ada yang “tetap seperti yang dulu”.
Tak dapat dipungkiri, banyak yang antusias menyambutnya
Terompet tet tet tet adalah contoh ekspresi kegembiraan anak-anak
Manusiawi …

Bagi penjual terompet, tahun baru adalah berkah tersendiri.
Di pusat-pusat keramaian berbagai kota, penjual terompet beraneka ragam bentuk dan warna-warni adalah bagian kehidupan di hari-hari menjelang tahun baru.

Puncaknya, apalagi kalo bukan tet tet tet tet tet di sepanjang jalanan.
Di kota kami punya keunikan tersendiri, kapal-kapal yang sedang berlabuh di Mahakam tak ketinggalan merayakannya dengan pancaran kembang api menghias kegelapan malam tepat menjelang pergantian tahun dini hari ….
Sirine pabrik-pabrik kayu, membahana menyambut tahun baru.
Di kampung-kampung, bakaran jagung dan senda gurau ikut menghiasi siklus pergantian tahun …

Lalu, bagaimana saudara kita yang terkena musibah nun disana?
Masih adakah kepedulian terhadap mereka?
Ah, … semoga pesta pora tidak memperlebar jarak sesama.
Semoga pula terketuk hati, sisihkan sedikit kegembiraan untuk mereka

Tahun Baru …

Comments (5)

cerita dari bu bidan

Saya punya tetangga 2 orang bidan, yang satu kerja di RS yang satu lagi pasca PTT (kalo ngga salah, pegawai tidak tetap, biasanya di daerah pedalaman, kalo salah tolong ada yang mau memperbaiki). Keduanya biasa menerima layanan jasa ibu melahirkan. Yang satu punya semacam ruang melahirkan pribadi di samping rumahnya, yang satunya lagi mendatangi ibu melahirkan di rumahnya.

Suatu sore, bidan tersebut nganter ikan lele ke rumah, diterima istri … bersambung ngrumpi … “ndilalah” saya denger rumpiannya di ruang sebelah.
Sebenarnya sudah lama lewat, tapi jadi ingat kembali berkat ramai-ramai poligami … (saya belum bosen koq) …
Terjadi dialog seperti ini (diterjemahkan dari bahasa daerah, dan saya tulis seingatnya)

bidan: ” bu, saya agak kerepotan, habis nolong melahirkan seorang ibu, nggak taunya malah jadi rumit …”.
istri: ” ada apa ?”
bidan: ” itu lho bu, setelah saya buatkan surat keterangan lahir untuk ngurus akte, kan biasa nulis nama suami dan lain-lain, supaya ngurus aktenya lancar, … sekitar 3 hari kemudian saya dilabrak seorang ibu, … kenapa koq mbikinkan surat seperti ini, dia kan merebut suami saya … ternyata ibu yang ngelabrak tadi istri pertama …, saya ya hanya bisa jawab tidak tau, wong memang tidak tau. Akhirnya saya dikasih tau tetangga, bilangnya sih waktu nikah yang kedua sudah dapat ijin suami pertama, tapi koq masih marah-marah …”.
istri: ” siapa sih …”.
bidan: ” itu lho bapak (i) “.
istri: ” … masa sih bapak itu punya istri dua, padahal sopan santun, berarti ngga satu rumah ya …”
bidan: ” saya juga baru tau bu, yang muda kerja di perusahaan plywood … dibuatkan rumah dekat pasa, masuk gang sebelahnya toko juragan minyak”.
istri: ” terus suratnya bagaimana …?”
bidan: ” diambil suaminya, pantas yang nunggui waktu melahirkan buliknya, bilangnya suaminya kerja lembur ngga ada yang nggantikan “.
istri: ” saya ngga ngira lho … “.
bidan: ” namanya juga laki-laki bu … ada yang baik ada juga yang kelihatannya sopan malah mbulet”.
istri: …. sayup sayup entah apa lagi yang dibicarakan, karena begitu ada kalimat laki-laki, saya ngeloyor lewat pintu samping, daripada kena “namanya laki-laki” …. untung mereka ngga tau saya di ruang sebelah … hehehe

Ternyata poligami “ruwet” juga ya …….. jangan-jangan beli popoknya sembunyi-sembunyi juga, belum lagi beli “bra”, dll dll dll …. dll …
😀

Comments (8)

Obrolan (poligami) di kampung

Media sangat menolong memberikan informasi sampai pelosok negeri, termasuk kampung-kampung, syaratnya hanya listrik dan tv. Tak ada listrikpun masih bisa pakai generator.
Tak heran, wabah pembahasan poligami ramai juga di bicarakan di warung, pasar, atau dimanapun orang berkumpul … hebat … sayang ngga di liput ya.
Di kampung tak kalah seru dengan di koran dan tv, bedanya ngga ada demo dan ngga ada liputan, dan satu lagi …. debat di kampung ngga pakai emosi apalagi marah … lebih “cerdas” gitu lho, dibanding yang katanya ahli, tapi dikit-dikit mencela yang ngga sepaham dengan ungkapan-ungkapan yang tak patut ditiru.

Jum’at, 22 Desember 12006 jam 14.00 waktu setempat, terjadi obrolan di bangku halaman sebuah rumah.

Bpk A: “poligami koq ngga ada habisnya …. sampai dibelain “gegeran” segala, tapi asyik mendengarkan orang-orang atas ngomong”.
Bpk B: “sampeyan gimana … ?”.
Bpk A: “kawin lagi ? … pingin dong, … tapi apa ya bisa adil …”
Bpk B: “kan cuman nggilir tho, 3 hari yang yang lama, 3 hari yang baru, 1 hari servis (rupanya bpk B menirukan banyolan srimulat)… uenak tenan”.
Bpk A: “ngawur aja, lha kalo ditanya enak mana hayo, mana mau dibilang sama aja … nanti ke yang satu ngomong, enak sampeyan dik, begitu ke yang lain juga ngomong enak sampeyan … kalo ketahuan bisa-bisa gak sarapan…”.
Semua tertawa ha ha ha
Tanpa diminta bpk C ngomong.
Bpk C: “… kalo saya istri sih, rasanya paling-paling bilang terserah … “.
Semua menimpali:” … ah yang benar …”.
Bpk C: “iya dong …”.
Bpk D: “kalo gitu nanti tak tanyakan mbakyu ya …”.
Bpk C: “heh, jangan … ngawur aja …”.
Bpk D: “tadi bilangnya terserah”.
Bpk C: “jangan lho dik, ini kan guyon, … kamu tau gitu lho, mbakyumu kaya gitu, nanti kalo mag-nya kambuh bisa opname lagi … jangan!”.
Bpk A: “tapi ada yang demo mau dimadu lho, bilangya ikhlas …”.
Bpk D: “alahhhh ngomongnya aja, … paling kalo dimadu betulan …minggat …”.
Bpk B: “… anak-anaknya gimana ya, … kalo pas main layangan trus diolok-olok temennya, … kira-kira kalo gak nangis ya berkelahi, wong namanya anak-anak”.
Bpk D: “… kita lihat aja nanti berita selanjutnya, kan orang besar itu sering masuk tv …nunggu gegerannya, atau rebutan warisan … “.

Semua tertawa … lalu pulang. ( sebagian teks diubah karena menggunakan bahasa daerah) Sebenarnya ada 9 orang tapi yang lain nggak berani bicara, alasannya takut dimarahi istrinya, takut dikira setuju atau kepingin kawin lagi …

Di tempat kami, pernah ada kepala KUA setiap ceramah diselingi poligami, bahwa itu dari Qur’an, bahwa itu sudah “dapuknya” laki-laki dan “dapuknya” wanita. Apa yang terjadi? Ibu-ibu jemaah pulang satu persatu dengan macam-macam alasan dan akhirnya si Kepala KUA yang mungkin kebelet poligami itu tidak pernah sekalipun diundang ceramah lagi.
Menurut rasan-rasan ibu-ibu, yang bersangkutan malah sering gegeran dengan istrinya … Naaahhhhh.
Namanya juga ibu-ibu di kampung, rasan-rasan yang sering dikeluarkan:” ooo bapak yang kepingin kawin lagi itu ya …”.
Padahal belum poligami.
🙂

Comments (2)

Poligami: Suara Anak Patut Didengar

Hiruk pikuk Poligami, nyaris terlihat sebagai perdebatan kaum dewasa, para istri, para suami, atau calon istri dan calon suami … paling mudapun kebanyakan mereka-mereka sekitar 20 tahun yang berani menyuarakan poligami, … mendukung maupun menolak …

Liputan media , kebanyakan menampilkan kelompok umur di atas, kalo toh ada yang meliput pemuda, remaja, abg … kemungkinan jumlahnya sedikit (ini hanyalah penglihatan pribadi)

Tentunya kita tau bahwa poligami, selain melibatkan pria beristri dan wanita dewasa, juga ada anak-anak di dalamnya …

Pernahkah kita jujur mendengar suara hati mereka?
Bukan cuma wawancara sesaat ketika prosesi pernikahan poligami berlangsung atau dalam rentang waktu pendek, tetapi pengamatan panjang selama pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan anak patut diikuti. Mengapa?
Karena anak-anak tersebut nantinya tumbuh dewasa, jadi orang tua dan jadi generasi penerus bangsa.

Sangatlah naif, bila para tokoh-tokoh, para pemimpin berhiruk pikuk pro-kontra poligami, sementara anak-anak dipandang dapat dicukupi dengan “keadilan” material, seperti uang jajan, uang sekolah, uang buku, kendaraan, rumah ataupun bentuk fisik lainnya, kasih sayang (?) dalam rumah.
jeritan anakBagaimana tumbuh kembang mereka secara psikologis dan sosial?
Coba tengok koran, putra Yth, Mr. ZM yang dikatakan mewakili keluarga ketika prosesi pernikahan ayahandanya. Di awal nampak tegar, tapi mengapa dia keluar dengan isak tangis?
Saya berani jamin, isak tangisnya bukanlah isak tangis bahagia seperti sang pengantin … buktinya sampai ditenangkan segala.
Itu hanya contoh kecil dalam rentang beberapa menit.

Bagaimana kehidupan mereka (anak-anak) nantinya? Yang dikatakan sedang studi di Australia pun, bisa saja menanggung malu dan sedih tiada tara?
Sayang, mereka-mereka tidak pernah “disanggong” kehidupan keseharian setelah poligami ayahandanya.

Sebuah penelitian berkenaan dengan hal tersebut di atas layak kita pelajari.
(lihat di sini)

Penelitian oleh Dr Emy Susanti, menghasilkan angka menakjubkan. Sebanyak 74, 89 persen mahasiswa Surabaya menolak praktek poligami. Padahal tidak semua responden dari keluarga poligami.
Apa juga kata mereka?

Mereka merasa tidak pernah dilibatkan dalam pembicaraan poligami, padahal mereka punya hak. Apakah kita akan menjadi penindas anak-anak kita yang sering didengungkan asal adil? Mana keadilan?

Baik yang pro maupun yang kontra poligami (kalo yang menolak poligami mungkin sudah mempertimbangkan ini), marilah kita perhatikan tumbuh kembang anak-anak kita. Walau masih SD, tak ada salahnya kita dengar suara hatinya.
Bagaimana rasa hati mereka saat mengetahui ada yang terenggut dalam keluarganya.

Jangan-jangan kita ini telah berbohong kepada calon generasi kita sendiri.
Cobalah buat kuisioner sederhana kepada siswa SD, SLTP dan SLTA.
Satu pertanyaan saja:”bolehkah bapaknya menikah lagi?”
Adakah yang mau melakukannya.
Kita lihat hasilnya …

Comments (15)

Older Posts »