Menggaruk bukit demi duit (1)

Posting ini akan dibuat secara serial, mengingat ada beberapa jalur area penambangan batu bara. Dua area adalah jalur yang sudah sangat saya kenal, sedangkan jalur lain saya dapatkan informasinya dari orang-orang yang pernah menggeluti usaha ini.

Seri 1: Batu bara jalur Sanga-Sanga ke Pendingin

Selayang Pandang.

Sanga-Sanga adalah Kecamatan tua peninggalan Belanda terletak di bagian selatan Kabupaten Kutai Kertanegara nan kaya raya. Kecamatan ini terkenal dengan produk minyak yang kini sudah tinggal sisa-sisa. Sebagian alat penghisapnya hanya montak-mantuk menyisakan kenangan bahwa di tempat itu pernah mengalami masa keemasan.

Jalur-jalur menuju pantai ternyata menyimpan batu bara di perut bukit-bukit hijau. Demikian pula jalur menuju Dondang, sebuah kecamatan di perbatasan wilayah Kutai Kertanegara dan Balikpapan di tepian muara selat Sulawesi.
Bayangkankan saja, bingung ?
Maaf peta tidak saya sertakan saking besarnya ukuran file.

Oya bukit-bukit itu bukan hanya puluhan tetapi ratusan dengan berbagai ukuran. Itupun yang terlihat dari jalan.

Satu keterangan lagi.
Bila suatu area dibuat jalan (tanah) oleh Dinas PU, maka disepanjang jalan tersebut berjajar patok-patok memanjang ke dalam seluas sekitar 5 hektar tiap patoknya.
Milik siapa ?
Yang begini gak usah tanya ah.
Tetapi supaya gak penasaran, perlu saya beritahu, patok-patok (maksud saya tanah dalam area patok) tersebut adalah milik orang-orang (oknum-oknum) yang memerintah (kata kerja). *kata bendanya silahkan sebutkan sendiri*

Jalur Sanga-Sanga ke arah Pendingin (nama desa di muara)
Bukit-bukit hijau satu demi satu terkelupas. Sebagian diantaranya habis, rata bahkan menganga lantaran digaruk demi memenuhi hasrat manusia.
Tak urung, lembah-lembah pun ikut kehilangan embun digilas belasan traktor untuk jalanan menuju bukit yang diperutnya mengandung batu bara.

Dan untuk meratakan jalanan, bukit lain jadi korban, digali siang malam tiada henti untuk menambal jalanan lembah supaya lebih tinggi.
Pemandangan di atas akan dijumpai bila kita menyusuri tepian Sungai Sanga-Sanga (cabang Sungai Mahakam) dari arah Sanga-Sanga menuju Muara (wilayah desa Pendingin).
Di sebelah kanan jalan berjajar perbukitan, salah satunya memiliki mata air dingin yang disalurkan ke tepi jalan dan tidak pernah berhenti mengalir sekalipun musim kemarau.

Ada 2 perusahaan besar di area tersebut, salah satunya milik Perancis. Perusahaan ini tergolong mewah. Para staf lapangan mendapatkan kendaraan operasional Mitsubisi. Mobil ini berjumlah puluhan. Truk superbesar, Traktor berbagai ukuran dan kegunaan entah berapa jumlahnya. Kendaraan-kendaraan tersebut hilir mudik seolah tak kenal lelah. *loh, yang tak kenal lelah orangnya apa kendaraan sih*

Pokoknya β„’ seperti UGD Rumah Sakit, tak ada hari libur.
Demikian pula tagboat yang berjajar di tepian sungai menggandeng ponton menunggu curahan batu bara dari gorong-gorong baja.

Ketika masih mulai merintis pembuatan jalan dan bangsal pemukiman pekerja, banyak buruh harian yang terjangkit Malaria. Tentu Malaria tropika sesuai mapping WHO. Tahu malaria enggak ?
Itu tuh penyakit yang disebabkan Plasmodium falcifarum dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. *kalo gak percaya, tanyak aja dokter sampeyan*

Sebelum itu (sekitar 4 tahun lalu) di area ini kita masih bisa menemui pekantan (kera berbulu coklat kemerahan) di tepian sungai dan hutan bakau.
Mereka (pekantan) tak peduli kita lewat di jalan tanah bebatuan, layaknya sahabat, atau mungkin kita dianggap tontonan.
Rombongan burung punai beterbangan di pepohonan ketika mendengar deru kendaraan. Tupai berloncatan di rerumputan tepian jalan.

Sejak September 2005 kegiatan tambang beroperasi (secara resmi).
Pemandangan indah alami tersebut kini tak ada lagi.
Yang nampak adalah deru kendaraan berbagai jenis tiada henti, mengangkut batu bara ke tepian sungai. Pepohonan rindang berganti tumpukan batu bara mengkilat bak gundukan bukit hitam. Debupun menjadi hirupan layaknya menu wajib bagi pekerja dan penduduk sekitar.

Apakah rakyat sekitar untung ? Yang untung jelas tuan besar modal.
Makmurkah penduduk di sekitar area tambang tersebut ?
Ahhhh, sama dengan nasib saudara kita yang lain di area tambang negeri ini. paling banter jadi pengangkut geledekan, satpam, penjaga kendaraan dan sejenisnya.
Selebihnya tetap miskin, rumah kayu. Bahkan dampaknya sebagian tak bisa lagi berladang. Para nelayan juga tak lagi bisa mendapatkan ikan di sekitar area tersebut, karena sungai tak pernah berhenti bergolak ditingkah kendaraan air yang lalu lalang.

Mereka adalah rakyat-rakyat tak berdaya.
Siapa bisa melawan penguasa ?

Pernah beberapa kali organisasi-organisasi pemuda dan organisasi lain protes, demo, marah, mengancam menutup tambang, bilangnya demi lingkungan, bilangnya demi rakyat.
Halaaah, ternyata gak sampai sebulan suara-suara heroik itu hilang.

Siapa salah ?
Menurut saya, banyak yang salah. Mulai Kepala Daerah, Dinas dan aparat terkait, dan bisa jadi termasuk kita. Loh. koq kita diikut-ikutkan sih.
Halah, kan cuman bisa jadi, artinya mungkin.

OOT:
Konon menurut cerita para kontraktor, sang Kepala Daerah seperti dokter praktek. Lho, koq ?
Iya, karena tiap hari, sekitar jam 7 malam menerima banyak pasien, maksudnya bukan orang sakit, tetapi para tamu yang minta obat cespleng berupa rekomendasi proyek.
Gak usah kaget, adakalanya 5 orang bisa memiliki rekomendasi dari Bupati untuk 1 proyek yang sama. Aneh kan. Gak aneh koq, kan bisa lupa, wong gak dicatat, dan lagi pasien tak sakit tersebut membawa amplop senilai biaya operasi di Rumah Sakit mewah.
Ini baru rekomendasi, masih belum ongkos lainnya.
Jadi tak ada jaminan pemegang rekomendasi bakalan dapat proyek, wong Bupatinya pemurah. Saking banyaknya pasien, seringkali prakteknya sampai jam 12 malam.

Lha, setelah membaca rangkaian gambaran umum di atas, apa pendapat anda ?

Bersambung lho. *sabar sodara, capek*

29 Komentar »

  1. Luthfi said

    KPC ya …?

  2. zferry said

    walah Pak’e ker di departemen apa nehhh…

    (* kura – kura dalam perahu nehhh *)

  3. Di Kalimantan tengah batu bara gak banyak. Tapi hutannya pada gundul, kayunya sudah jadi barang tak berharga masuk WC. Sepertinya daftar panjang keserakahan belum berhenti. Yang bisa menyelesaikan persoalan ini hanyalah Sang Penguasa Alam (Allah SWT)

  4. juliach said

    Tdk hanya batu-bara. Rotan & kayu pun juga begitu. Aturan main utk export rotan & kayu dr Indonesia tdk boleh bahan mentah (berupa gelondongan/potongan balok besar), tapi harus sdh diolah berupa semi-mentah (kulit rotan yg sdh diwarnai/rotan yg sdh halus & dipotong-potong) atau barang jadi (mebel, flooring,barang dekorasi, dll). Ketika saya menemani klien berkunjung ke pabrik di Banjarmasin. Ohlala…lonjoran rotan kering mentah (belum disisik lagi) siap masuk ke kontainer. Iseng-iseng saya bertanya untuk dikirim kemana rotan ini? Cina!!!
    Saya & klient saling berpandangan bengong!!!!

  5. prayogo said

    Kok di Indonesia yang terjadi seperti itu ya, illegal loging, pencurian, penipuan. Sampai kapan bangsa ini akan jadi lebih baik, saya pesimis sekali bangsa ini akan menjadi bangsa yang baik. Jangan-2……

    Dan sependek yang saya tahu, biasanya mereka melakukan illegal loging karena mereka di dekengi oleh penguasa, pengusaha dan satu lagi badan yang sangat sulit sekali di jamah (alat negara). Suatu bisnis jika di dalamnya terlibat alat negara, maka kebanyakan bisnis itu akan jadi besar dan maju. Tetapi tdk untuk perkembangan perekonomian kita. Hanya mereka2 yang maju….sementara rakyat tetap begini saja….

  6. fulan said

    Duhh, lampu baru nyala, PLN.

    @ Luthfi,
    Bukan. Kalo gak salah namanya Leighton dan satu lagi punya Bongso dewe di Sanga-Sanga.
    KPC kan di Sangatta, daerah kekuasaan Mas Biho.

    @ zferry,
    Departemen apa tho Mas.
    Saya kan Departemen Perbloggeran, Hehehe

    @ helgeduelbek,
    Weladalah, saya kira Kalteng masih lebat kayak Amazona.
    Gak tahunya sama Pak. Penghijauan di Kaltim sih ada, tapi pakai Akasia.
    Lucu juga ya, ulin, meranti, kayu kapur, bengkirai diganti Akasia, itupun hanya di pinggir jalan. Mungkin biar kelihatan Pejabat.

    @ juliach,
    Hahaha, itulah negeri tercinta. Memang ada aturan itu, sejak awal 90-an sudah gak boleh lagi gelondongan. Tapi gimana, wong pengirimannya dikawal oleh yang bagian nangkep je. Dulu saya bisa lihat rotan menjulur liar di tepi jalan, sekarang sudah sangat cerah.

  7. fulan said

    @ prayogo,
    Katanya hutan Indonesia adalah paru-paru dunia, lha paru-parunya udah kembang-kempis, piye.

    Di sepanjang sungai Mahakam daerah ilir Samarinda adalah sentra Industri perkayuan dan penunjangnya. Sejak 2001 satu persatu berguguran, termasuk punya mister bob hasan, prayogo pangestu, yusuf hamka, dll.
    Sekarang tinggal 2 yang eksis, itupun megap-megap.
    Memang banyak yang terlibat, eksekutif, legislatif dan aparat.
    Pabrik-pabrik yang mati suri biasanya nanti berpindah tangan, eksis sebentar, megap-megap lagi, tutup lagi. Siklusnya udah gitu.

  8. Biho said

    Ahhh rakyat kecil seperti saya cuma bisa ngurut dada mas!
    wong periuk nasi keluarga saya juga datangnya dari batu bara..πŸ™‚
    perihal daerah “kekuasaan” yang jelas saya tiada daya tiada upaya… heh he
    Terus mengenai kata kerja biasanya diawali imbuhan me- ya mas, nggak apa-apa nggak pake kata benda juga, sudah mafhum semua, ok mas tak enteni goresan jarimu selanjutnya. god job lah.

  9. fulan said

    @ Biho,
    Hahaha, tentu ada yang bagus adapula yang gak bagus. Yang bagus biasanya ada kontribusi terhadap lingkungan, alam dan sekitarnya.
    Tapi ada juga yang dihabisi.
    Pilih mana Mas ???? PIlih nge-Blog. hehe.

  10. passya said

    bumi diciptakan untuk dimanfaatkan manusia. yang penting harus menjaga keseimbangan.

  11. Biho said

    yup pilih NGEblogπŸ™‚

  12. fulan said

    @ passya,
    Walah, koq diduluin tho Mas, itu kan postingan seri ke 2.
    Piye, rahasia sudah dibuka duluan.
    Yo wis, tetep tak terusin aja, diselingi posting lain. hehehe
    OOT:
    Komen saya di tempat sampeyan koq gak langsung muncul kenapa ya ?

    @ Biho,
    Sama dong Mas, nge-Blog.
    Btw, komen Mas Biho udah dibuka Mas passya.πŸ˜€

  13. […] yang mas Fulan sendiri rasakan di Samarinda, kegiatan mblogging jadi terganggu khan, Gimana nih […]

  14. Mbah Keman said

    Tenang aja bun fulan.. nanti kalau memang semua dah habis..manusia baru mikir… saya hanya menanti akibat karena sebabnya sudah

  15. fulan said

    @ Mbah Keman,
    Sebenarnya ada juga yang bagus Mbah, tetap menjaga keseimbangan dan gak membabi buta. Menyediakan sarana pendidikan modern, tempat ibadah, sarana kesehatan canggih dan membantu pemukiman masyarakat sekitar, bahan memberi peluang tambahan penghasilan.
    Sayangnya yang baik hanya sedikit. Lainnya hanya nguras, setelah habis ditinggal pergi. Hehehe.

  16. Menurut Kang Kombor, penduduk sekitar daerah tambang nggak mungkin sejahtera. Lihat saja di daerah Duri – Riau, di perut bumi minyak (minyak bumi) dan di atas bumi minyak (kelapa sawit) tetapi orang sana kadang-kadang cari minyak tanah atau solar susahnya bukan main. Di Tembagapura, ada sebuah kota moderen tetapi yang menikmati bukan bangsa berkoteka.

    Kesimpulannya, UUD1945 memang harus selallu diamandir karena Pasal 33-nya selama ini dikangkangi terus dan tidak ada yang bisa berbuat apa-apa. Usulan konkret dari Kang Kombor, Pasal 33 UUD 1945 diamandir lagi menjadi “Bumi, air dan kekayaan yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh pejabat dan bebas diberikan kepada pemilik modal yang memberi amplop paling besar.”

    Nomor pasalnya bener nggak ya? Dah lama nggak ngapal isi UUD 1945.

  17. MaIDeN said

    Itu semua karena kita salah milih waktu PEMILU. Yang dipilih wakil partai dari partai busuk. Wakil partai ini datang duduk diam duit di gedung ber ac di jakarta sono. Nggak mikirin UU yang bagus.

    Jangan pikirin pelaksanaannya dulu. Pikirkan aja bikin UU yang bagus dulu. La UUnya nggak pernah ngelarang koq. Kalau UUD 45 kan hanya pedoman.

    Btw, itu apa tadi … leighton hanya kontraktor. Dibelakangnya ada lagi yang lebih besar yang siap menunggu kalau project jalan sudah selesai.

  18. Ferry said

    @ maiden
    walah bro emang pemilu ngaruh ?, mo milih wakil rakyat yang baek, mo milih presiden yang baek mo buat UU yang bagus kalau sistem sudah kacau lha piyeee ??? wong ada koq satu daerah yang para lurahnya berdemo karena khawatir terhadap kepala daerah yang baru yang anti korupsi, khawatir ladang korupsi mereka yang sudah dianggap pemasukan rutin dihentikan kemudian berdalih ini… itu… yang intinya kepingin kepala daerah yang lama diangkat lagi. Itu baru para lurah belum para camat, belum para kabag belum para dirjen… wah capek dehhhhh

  19. Dahsyaaattt… ini baru tulisan Kalimantan.
    Hayuh terus, saya mengikuti euy!

  20. arya said

    Jangan lupa, tulisannya dibuat berimbang.πŸ˜€

  21. politik kapitalis.. huhu..
    tu bi continu nya ditungguu..

  22. fulan said

    @ Kang Kombor,
    Hehehe, mungkin pasal 33, tafsirnya: “monopoli pengaturan, penyelengaraan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan sumber daya alam serta pengaturan hubungan hukumnya ada pada negara”.
    Usul Kang Kombor perlu dipertimbangkan karena lebih eksplisit. Bilangnya, ada 3 pemain utama Kang, bumn, bumd dan “oknum”.
    Sudah ada rekomendasi dari mpr 2002, ngga jadi kali.πŸ˜€

    @ MaIDeN,
    wow, lebih mengarah nih. Koq tahu ada orang yang “di belakang”, hayo.
    Ada sih 11 UU yang mengatur, tapi dari tahun 1960 s/d 1990.
    Isinya, hiyyy suram.

    @ Ferry,
    Lho, bahasan sampeyan sudah hampir mencakup semuanya Mas.

    @ Arif Kurniawan,
    Mau ngerangkum untuk Indonesiana ya Mas. hehehe.
    Entar, narik nafas panjang dulu.
    Hemmmmm, siap nulis lagi minggu depan.πŸ˜€

    @ arya,
    Jangan khawatir Mas, seperti film bolywood ada juga yang baik walau dikit.
    Yang itu belakangan ya …πŸ™‚

    @ tikabanget,
    Ho-oh … ho-oh.
    Sampai galian C.πŸ˜€

  23. gali teruuuusπŸ™‚

  24. agorsiloku said

    Wow batubara, yang dipersiapkan oleh Allah untuk kemaslahatan manusia masa depan ketika minyak bumi kian menipis?. Berapa banyak kandungan batu bara di Indonesia ini?

  25. cepaxu said

    ahhh.. kampungku sudah terkupas habis?
    *wajah bengong*

  26. della said

    mantap dah. . . mau jd apa indonesia kbykan jual SDA.tingkatkan inovasi n intelektual. . yg ptng lg moral.

  27. Indie-ana Jones said

    Jadi ikut merasa malu dan sedih, karena periuk nasi saya juga ada yang berasal dari exploitasi Sanag Sanga, tapi bukan batubara-nya melainkan dari pengisap yang hanya mengangguk2 mengingat masa kejayaan bertahun-tahun yang lalu. Jadi binun dan takut, jangan2 ikutan juga merusak Sanga Sanga

  28. […] karbon yang didengungkan di mana-mana. Yang jelas berton-ton bahan penghasil karbon ini toh tetap digaruk dan diangkut keluar pulau. Mau legal atau ilegal, sebenarnya sama saja, yang jelas sama-sama […]

  29. Anton said

    Pertumbuhan daerah pertambangan harus disertai upaya kelestarian lingkungan..

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: