Memori: berpayung di Taman Apsari

Berpayung di Taman ApsariBila gedung Balai Kota Surabaya dianggap sebagai pusat kota, kawasan Taman Apsari boleh dikata masuk dalam jajaran tengah kota.
Anehnya tidak semua warga Surabaya mengenal Taman Apsari. Berbeda ketika di tanya Tunjungan, hampir dipastikan semua warga Surabaya mengenalnya. Padahal letak Tunjungan dan Taman Apsari hanya bersebelahan. Tunjungan Plasa sangat dekat dan jelas dilihat dari kawasan ini.
Pun ketika anda berdiri di halaman Balai Kota, coba tanyakan Taman Apsari.
Tidak semua mengetahuinya, padahal tepat di seberang jalan Pemuda itulah Taman Apsari.

Taman Apsari punya perbedaan unik dibanding kawasan Surabaya lainnya. Betapa tidak, kota yang terkenal dengan udara panas dan kemacetan, tidak berlahu untuk kawasan Taman Apsari, sebuah kawasan mini peninggalan Belanda. hiruk pikuk Kota Surabaya seakan tak terasa. Sepi, tak banyak kendaraan lewat, rindang, sejuk dan relatif tenang, walau tempatnya di tengah kota.

Ciri khas Taman Apsari antara lain:

  • Tempat Patung Joko Dolog yang terkenal itu
  • Tempat Radio Suzana yang benyak menggelar acara aneh.
  • Tempat berdiri Patung Suryo dan tamannya nan hijau.
  • Tempat Rumah Makan Tamansari yang konservatif.
  • Tempat Flat berlantai 5 peninggalan Belanda

S e k a r a n g ?
Ah, kawasan nan sejuk, dipenuhi pepohonan besar, tenang dan bebas banjir itu sudah berubah.
Yang tersisa hanyalah memori. Memang masih ada Patung Suryo, masih ada Joko Dolog, masih ada RM Tamansari, masih ada Radio Suzana.
Namun, keasrian sudah hilang, pohon besar bertumbangan, gedung Flat peninggalan Belanda rata dengan tanah.

Selain ketenangan, asri dan teduh pepohonan, kenangan paling berkesan bagi saya adalah gedung berlantai 5 peninggalan Belanda.
Gedung kokoh tersebut beda dengan gedung pemukiman lantaran punya ciri tersendiri, yakni: bertembok tebal, pintu dan jendela tinggi, kamar nan lapang, ventilasi lebar, pembuangan limbah lancar dan halaman luas dinaungi pepohonan raksasa nan rindang.

Kilas balik
Sejak Indonesia merdeka, lalu diikuti peristiwa heroik yang kita peringati sebagai Hari Pahlawan, gedung tersebut kosong seperti gedung peninggalan kolonial lainnya.
Pemerintah kala itu membagikannya kepada warga sebagai hak pakai.
Bermodal selembar kertas, sebagian warga menempatinya.
Tak banyak yang mau bermukim, sama seperi gedung pemukiman lain milik Belanda. Mungkin masih suasana takut jika sewaktu-waktu timbul agresi.
Kami adalah generasi kedua yang menempati gedung tersebut, di lantai dasar bagian ujung.
Ketika itu Masih ada generasi pertama, diantaranya keluarga Belanda dan ada pula campuran Belanda-Indonesia. Kami menyebutnya Londo atau Indo.

Inilah kelemahannya.
Semua penghuni tidak memiliki surat hak milik, mengira surat hak pakai sudah cukup.
Setiap ada yang mengurus, atau membelinya, konon dijawab oleh instansi berwenang, tidak perlu.
Beberapa tahun lalu, para penghuni dipaksa menyetujui perjanjian ganti rugi dari Pemkot Surabaya, lantaran kawasan tersebut dibeli pengembang entah untuk apa.
Tanpa surat hak milik, posisi kami amat lemah, sehingga akhirnya manut.
Kami harus rela meninggalkan gedung penuh memori itu.
Beruntung, jauh sebelumnya si Om Belanda sudah mengingatkan kami untuk memiliki rumah sendiri di tempat lain karena beliau khawatir sewaktu-waktu area tersebut diambil alih pemerintah.
Dan ternyata prediksi si Om Belanda benar adanya.
Sekarang flat itu sudah rata dengan tanah. Area yang menurut kasak kusuk akan dijadikan pertokoan mewah tak kunjung berdiri.

M e m o r i.
Tahun lalu kami sekeluarga napak tilas kawasan tersebut, mengenang gedung di mana kami pernah tinggal. Membayangkan kami keluar rumah, berpayung saat hujan.
Tak ada lagi pohon-pohon mahoni raksasa. Panas, gersang.
Anak tertua yang sempat menikmati tinggal di situ protes, mengapa pemerintah tidak menjadikannya gedung yang harus dipertahankan, mengingat nilai sejarahnya. Pertanyaan lain yang terlontar, mengapa, mengapa dan mengapa ?
Saya tidak bisa menjawabnya.
Yang tersisa kenangan sebuah peristiwa.

Memori berpayung di Taman Apsari

17 Komentar »

  1. Ferry said

    walah kayaknya indah dan romantizzz tuh Pak…

    (* aku baru delok gambare dereng tulisane he… he… *)

  2. fulan said

    @ Ferry,
    Itu bukan gambar saya lho Mas, nyomot di photo share, maklum waktu itu belum kenal foto digital.
    Mestinya ada adegan ulangan yo. hehehe.

  3. Ferry said

    walah kalo gicu batalin aja deh niat kesana hi… hi…

  4. Gabrielle said

    Iya. Sayang dulu nggak sempet foto/bikin video ya, Mas?😕

  5. fulan said

    @ Ferry,
    walah, wong di Surabaya itu panas, sumpek, macet, banjiran, nyamuknya gede-2. Kecuali kalau mau cuci mata di kampus-kampus. Hehehe.

    @ Gabrielle,
    Foto dah ketlisut Mbak. Beda dengan cewek kali ya, foto mbak Gaby yang dipajang di Blog bagus-bagus, saya gak bisa otak-atik foto.
    Video shotingnya di ruangan, gak kepikiran nyoting di taman. Eh emangnya mau nyoting orang bergandengan, ntar bisa dilempar sandal. hehehe

  6. Wah saya dulu waktu masih sd sampek SMP paling seneng denger radio Suzana, yg alamatnya di Taman Absari itu. Jadi inget masa itu. Ada acara yg saya tunggu saat sore hari, mendengarkan Trioboloro -Wonokairun itu. Apa sekarang masih ada?

  7. Dee said

    Dua tahun berkeliaran di Surabaya – Sidoarjo, eh aku juga nggak kenal Taman Apsari. Ngertine mung Tepeee ae…

  8. prayogo said

    Tempat seperti ini yang sangat saya senengi. Saya pengen sekalisetiap minggu menghabiskan waktu di situ. Sayang saya jauh dari situ….

  9. fulan said

    @ helgeduelbek,
    Radio Susaza memang hebat mengemas acara, termasuk Wonokairun. Ada lagi kontes wong lemu, kontes ngguyu, kontes nangis blom pernah dengar. Kami dulu tinggal pas adep-adepan dg Radio Suzana. Sekarang gak tahu lagi acaranya, kalau Suzana masih ada.

    @ Dee,
    Kalau ke TePe, biasane mejeng ndelok wong ayu-ayu. hehehe. *koq podo yo*

    @ prayogo,
    Biasanya tiap kota ada tempat teduh di tengah kota. Itupun kalo pohon besarnya gak dibabad tatakota. Ada kenangan di tempat khusus to Mas.

  10. Dua tahun sy bol bal Jkt – Sukolilo … sempat menikmati gedung tua pelni yang amburadl … roh nya masih terasa lho

  11. juliach said

    Oh, Surabaya!!!Tempat bisnisku + ketemu pacar lama. Sebetulnya Surabaya itu kota yg romantis (kalo malam), sayang kotor (terakhir berkunjung April 2004).

  12. fulan said

    @ Dedi Dwitagama,
    Nyambi ngajar di ITS to Pak. Atau kenangan waktu ambil S2 ?
    Hehehe rupanya sempat “menikmati” gedung yang kayak kapal tengkurap ya.

    @ juliach,
    Wow, romantis sekali kalau malam-malam sambil bergandengan.
    Lha kalo siang di Pasar Turi, ampuuun … panas dan banyak jambret.
    Sekarang dah tambah macet mbak, kotornya juga tetep. Walau begitu tiap tahun pulang. hehehe.

  13. sy belajar di jur statistik ITS … kapal tengkurep? … ha ha … cukup lama saya memandangi sudut-sudut dalam ruang disana … bayangkan saat masih berfungsi … lalu sarapan tak jauh dari sana ^-^, masih ada pasar kagetnya sekarang?

  14. neri said

    wuiih….kok rasanya menyenangkan sekali y sby jaman dulu, bisa ceriatain keadaan jln praban, blauran dan sekitar tempo dulu g pak???? Klo’ saya lewat sana saya suka membayangkan soerabaja tempo doloe

  15. tiqi said

    saya terkejut ketika membaca memorian ini. saya pernah membayangkan tinggal disana. saat melihat seorang membuka jendela yang ada dilantai tiga.
    hingga rata dengan tanah saya tidak sempat menginjak kaki di sana juga membuka jencela lebarnya. jika anda sempat tolong balas email saya. saya ingin mendengar cerita lebih banyak lagi tentang flat tersebut. terimakasih.

  16. Wawan said

    Halahh… jadi inget sama Suroboyo-ku tercinta…😦

    Ternyata ndak berasa juga 11 tahun hidup di Jakarta. Meski 2 tahun sekali pulang ke Simo Surabaya, masih saja tidak ada waktu buat jalan-jalan ke Joko Dolog…

    Hmm… suwun buat sampeyan yang nulis ini.

    -wawan-

  17. Loren Limahelu said

    Wah, kebetulan aku lagi iseng nge-google “taman apsari, hari ini …. lalu seneng deh ada yg masih ingat flat taman apsari, emang siapa yg nulis.
    Aku dulu juga tinggal disana bersama ortu no.47, sekarang tinggal di Bld sejak 1988, waktu liburan 2006, liwat kesana sedihnya bukan main, rumahku sdh diratain tanah, untung anak pertamaku masih sempat nginap 2X disana, sayang anak ke2 ngga bisa lihat rumah tinggal ibunya dimasa kecil.

    Thank’s utk penulisnya, mudahan aku kenal.
    Dan Wawan, apa kamu dari Kel. Suyanto?
    Bye!

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: