sepekan: nasi basi korban Lapindo

Pekan lalu media memberitakan tentang nasi basi yang diterima korban Lapindo.
Kejadian pemberian nasi basi yang ditayangkan Metro TV Online pekan lalu sungguh menyesakkan.

Keterlaluan ! Jerit hati saya menyaksikan gambar tivi.
Juni 2006, saya sempat menyaksikan luapan lumpur di Jalan Tol Gempol, Agustus kembali lewat kawasan tersebut, dan saat lebaran melihat dari dekat area genangan lumpur Lapindo di sekitar jalan lingkar Apollo Porong, Sidoarjo.

Entah apa yang ada di benak para petinggi kita menyaksikan nestapa para korban.
Petinggi daerah, petinggi provinsi, petinggi negara bergantian datang ke lokasi para korban dan kawasan semburan lumpur Lapindo.

Oke, masalah teknis saya gak ngerti babar blasss.
Tetapi korban yang kehilangan harta benda, tidak cukup dicekoki dengan janji dan hiruk pikuk gegeran di tivi.
Mereka membutuhan kepastian, kepastian tempat tinggal, kepastian mata pencaharian, kepastian penggantian (ganti rugi), kepastian arah menentukan masa depan.

Rumah hilang, perabotan terendam, surat penting entah raib kemana.
Surat penting bukan hanya penting tetapi sangat penting.
Surat tanah, IMB, Ijasah seluruh anggota keluarga, Tabungan dan seluruh surat-surat lainnya tak mudah untuk diurus. Kendati begitu, alangkah bijaknya mempercepat proses pembaharuannya.
Katakanlah, surat tanah dan IMB, mestinya pemerintah proaktif segera menyelesaikan.
Banyak persoalan memang, tetapi bukan satu-satunya hambatan, toh sudah ada data base di Badan Pertanahan (ada apa enggak sih ). Kantor Kelurahan dan Kecamatan juga harus proaktif dong. Mumpung kantor-kantor tersebut belum ikutan tergenang.
Diknas sebaiknya juga segera menangani raport para siswa (semua tingkatan), bikin salinannya.
Ada datanya kan ? Sudah apa belum ?
Kasihan tuh anak-anak, sudah sekolahnya tenggelam, jangan sampai ditambah urusan ribet.

Nasi Basi
Dua kali kasus ini berulang. Sungguh kita dibuat geleng kepala, mengurut dada, terperangah, menyaksikan wajah-wajah sendu mendapatkan nasi basi.
Mengapa bisa terjadi ?
Tak ada penjelasan yang memuaskan.
Biasanya kita hanya disuguhi berbagai argumen mbulet. Bosan.
Tak tersentuhkanh hati para petinggi kita menyaksikan warganya kelaparan.
Nasi basi.
Bagaimana bila diare, tifus dan lain penyakit yang muncul sebagai akibat pemberian nasi basi ?
Keterlaluan !
Sekali lagi keterlaluan !!!

14 Komentar »

  1. Mbah Keman said

    @ Fulan
    Gaya Comment baru nih!?
    Jadi begini…

    Penderitaan itu tidak nikmat untuk di rasakan, dan kepedihan itu tak layak untu di tangisi..maksud simbah ki jane sederhana,,,petinggi negara itu gak mungkin,,, bisa merasakan kepedihan dan penderitaan rakyat kalau mereka tinggal di Hotel dan bercengkrama di Ruang ber AC dengan bahasan lapindo, Lapindo itu hanya akan jadi materi rapat bagi mereka,, dan materi Blog bagi kita,, BETUL?
    dan penghias layar kaca…

    Kematian korban LAPINDO itu ..dalam pandangan petinggi negara hanya..statistik hilangnya penduduk..

    kalau mau maksa, petinggi negara merasakan..ya ..RUAG rapat di pindah di SIDOARJO dan petinggi negara suruh tinggal di pengungsian aja…

    saya yakin para petinggi itu kalau, di pengungsian masih sempat korupsi MIE INSTAN he he,

  2. fulan said

    @ Mbah Keman,
    Ini dia komen canggih model baru, seperti berita Metro TV.
    Beritanya diakhiri he he, ndak dipotong honore, Mbah. Hehe *lo malah melu*

    Kita bisanya ya gini ini. Murang-muring lewat Blog di layar Kaca Monitor PC.
    Adik ipar saya tinggal di Sidoarjo, cerita-cerita diantaranya tentang Mie Instan.

    Konon, Mie instan diembat, bukan oleh petinggi Negara, tapi petinggi tingkat ndeso. Bener tidaknya, mboten ngertos Mbah, wong cuman konon. hehehe.

  3. prayogo said

    Diskriminasi di indonesia itu kian jelas saja. coba lihat bagaimana perlakuan korban lapindo, korban kapal senopati, korban adam air. Semuanya mendapat perlakuan yang berbeda-2/diskriminasi.

    Sepertinya korban lapindo sudah tdak terlalu di urusi ama negara, mereka lebih sibuk urusi adam air, kenapa? karena selama ini pemerintah sudah dapat duit banyak dari adam air.

    Saya sangat prihatin dengan bagsa ini, orang sudah susah masih juga di bikin susah. Sampai kapan ini akan terus terjadi?

  4. Luthfi said

    hmmmm, masih jadi berita … namun layak gak sih ….

  5. Luthfi said

    lho … komenku kog gak muncul yo ….

    *bingung*

  6. zferry said

    wahhh Pak Fulan baru yaa tinggal di Indonesia🙂

    * lari ahhhhh *

  7. fulan said

    @ Prayogo,
    Ada lagunya; … itulah Indonesia …
    Kita nulis ini juga bentuk kepedulian, mengingatkan pemerintah.
    Kalau gak mau kan yo gak apa-apa, yang penting sudah berbuat untuk negeri tercinta, ibu pertiwi. *pertiwi sedang duka*

    @ Luthfi,
    Sudah gito lho Mas, lha ini nongol. Ada yang panjang po. Ntar login dulu ya, siapa tahu ada yang dimoderasi.

    @ zferry,
    Enggak tuh. Sejak lahir asli Indonesia, hanya pindah pulau.
    emangnya ada apa hayo.😀

  8. fulan said

    @ Luthfi,
    Sori, kesamber moderasi Mas.
    Ya betul, ditinjau dari interval waktu, sebenarnya udah gak layak muat.
    Saya angkat lagi karena dapat tilpon dari adik yang di Sidoarjo tentang gak beresnya penanganan para korban. Sampai sekarang ini masih ribut.
    *Hehehe membela diri*

  9. Gabrielle said

    Hmmm…

  10. fulan said

    @ Gabrielle,
    Hmmm…😀
    Wah saya sulit mengartikannya.

  11. agorsiloku said

    Mereka membutuhkan kepastian. Dan seluruh isi kekuasaan itu telah menyampaikan secara jelas, masak FULAN PEMBAYUN tidak mengerti juga.
    Bukankah sampeyan sudah melihat sendiri, dengan mata kepala sendiri (paling tidak di TV), bahwa mereka mendapatkan kepastian. PASTI MENDERITA.

  12. fulan said

    @ agorsiloku,
    Kebetulan sempat lihat sendiri Pak.
    Menderita. Ya pasti.

  13. Pemerintah Pusat nggak berniat menyelesaikan masalah pemberian bubur panas di Sidoarjo oleh Lapindo (yang perlu diberantas) secara pemilik Lapindo adalah kolega sekabinet. Seharusnya Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berada di tengah rakyat menghadapi Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang sepertinya juga males-malesan menyelesaikan masalah itu dan pemerintah pusat.

    Pesan Kang Kombor, jangan serahkan urusanmu kepada pemerintah, pasti nggak bakalan beres. Tengok saja demam berdarah, illegal logging, flu burung, korupsi, dan terakhir bubur panas di Sidoarjo, nggak ada satu pun yang beres.

  14. fulan said

    @ Kang Kombor,
    Iya Kang, yang sukarelawan malah lebih serius padahal uang urunan.
    Persis kayak gempa Jogja, waktu saya ke Bantul tenda bagus dan lapang malah dari luar negeri, sedangkan yang dari pemerintah mirang-miring.

    Efek suguhan jenang Lapindo juga sama, kalau Kang Kombor ngeliat saya jamin menitikkan air mata.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: