Review Blog, kenapa tidak ?

P r o l o g
Review terhadap sebuah blog sangat menarik bagi saya. Terlebih setelah ada blogger yang melakukannya, seperti Kang Adhi mereview masalah antek-antek dan temen yang hipotensi ( melibatkan juga Bung Arif ) serta Bung Tajib, otomatis melibatkan juga lainnya (secara interaktif).
Beberapa waktu lalu beliau berdua me review postingan Bung wadehel karena rindu setelah 2 hari gak ngeblok.
Saya yakin jauh sebelumnya, para blogger sudah biasa mereview blog lain atau blognya sendiri dengan berbagai tujuan.

Seperti halnya tinjauan terhadap bahasan, artikel, majalah, buku bahkan film (dan masih banyak lagi), review dimaksudkan “membedah”, mempelajari, memahami kemudian berlanjut pada ulasan-ulasan. Adakalanya, hasil ulasan dimungkinkan untuk diulas lagi dan diperdebatkan didiskusikan.

Cat. Sampai hari ini ( 20 Januari 2007/23:37:18 wita ) ternyata Review semangkin bertambah, hebat. Wah, bisa jadi esok semangkin banyak yang terlibat.

Update ( 21 Januari 2007 17:17:44 )
Saran dari: Gabrielle, sekiranya teman-teman akan mereview blog lain, dianjurkan minta persetujuan terlebih dahulu kepada pemilik blog. Terimakasih.

Latar Belakang
Ketertarikan saya bermula dari postingan pak Urip dalam salah satu posting bertajuk Cara do Blog dan Evaluasi Blog
Mengutip peribahasa lama ” dalamnya laut bisa diduga, dalamnya hati siapa yang tahu”, boleh jadi review merupakan upaya menguak sentuhan sebuah blog.

Pada umumnya isi blog sedikit banyak menggambarkan latar belakang keilmuan, tujuan, dan minat pemiliknya. Namun, bisa juga tidak, bahkan adakalanya tidak tahu sama sekali siapa pemiliknya, menyisakan misteri. Menarik sekaligus membuat penasaran.

Cara penulisan, pengungkapan ide, pemilihan materi dan pernik seputar posting sangat variatif. Demikian pula hiruk pikuk tanggapan terhadap posting, tak pelak mempunyai pesona tersendiri untuk dikaji.

T u j u a n
Menurut hemat saya, review dimaksudkan untuk:

  • Mempelajari isi blog secara keseluruhan
  • Mempelajari seberapa jauh akses isi sebuah blog memberikan pengaruh terhadap suatu komunitas.
  • Mempelajari lalu lintas interaksi antar blogger terhadap materi posting dan isi blog
  • Mempelajari ketertarikan blogger terhadap isu yang sedang berkembang.
  • Membantu penyebaran informasi isi blog sesuai bidang tertentu

R e v i e w
Bedah blog bisa memunculkan beragam tinjauan, dan saya memberanikan diri memilah bagian-bagian blog yang mungkin dijadikan bahan review.

1. Halaman Utama
Tak banyak yang dapat saya jadikan dasar review di halaman utama.
Secara garis besar, boleh dikata halaman utama bisa mewakili hampir keseluruhan isi dapur blog, termasuk tautan sebagai penuntun bagi pengunjung ke arah mana akan menuju.

2. Pilihan Theme
Wordpress nampaknya tahu betul memanjakan penggunanya, sehingga siapapun bebas memilih theme sebagai media ekspresi para pengguna. Bahkan beberapa theme memberi keleluasaan untuk mengganti header. Tak ketinggalan widget disertakan sebagai ramuan penyedap. Bahkan kini tersedia extras (snap) yang ternyata tidak begitu disukai oleh sebagaian blogger dengan alasan mengganggu pandangan, padahal bung passya sempat memohon-mohon meminta kepada Matt agar snap terintegrasi dalam theme.

Title dan Sub title
Pilihan title dan tagline bisa jadi memiliki makna tersendiri bagi seorang blogger. Tak heran dalam menentukan pilihannya, blogger rela meluangkan waktu untuk menentukannya.

3. Halaman

3.a. About
Bebas, sebebas setiap orang akan menampilkan jati dirinya seperti apa. Bisa berupa gambaran asli, gambaran semi mesterius ataupun sangat mesterius. Dapat juga berupa simbol-simbol khusus yang memiliki arti khusus bagi pemiliknya.
Pentingnya informasi about, pernah digelindingkan oleh pak Urip dan mendapatkan sambutan hangat para blogger.

3.b. ( Kotak ) Saran
Beberapa blog saya temukan melengkapi halaman “saran” merujuk pada posting pak urip Helgeduelbek.
Para blogger menambahkan halaman lain dengan beragam nama yang intinya merupakan informasi untuk memudahkan pembaca menelusuri jeroan blog. Kendati bukan materi utama bukan tidak mungkin menarik perhatian untuk dimasukkan tinjauan.

4. Posting

4.a. Materi dan Aktualisasi
Umumnya isi posting mengangkat isu terkini yang sedang berkembang di dunia nyata maupun di dunia blog. Ada pula pengalaman pribadi yang dapat dijadikan “sharing” informasi bagi pengunjung disertai “alternatif” jalan keluarnya.
Adakalanya berisi informasi bidang keilmuan yang spesifik, tutorial dan lainnya.

Menarik untuk disimak adalah keberagaman isi posting yang kadang mengungkap “wilayah sensitif”, mengajak interaksi ke ruang olah pikir.
Ajakan membuka mata, hati dan stimulasi serabut saraf untuk berpikir dan merenung. Retrospeksi terhadap rangkaian fakta.

Tak pelak, isu terkini yang menyangkut “tokoh” dan “wilayah sensitif”, membawa pengunjung ke dalam arena “adu argumentasi”.

4.b. Kontinuitas
Sulit mengukur standar kontinuitas, mengingat blog adalah media berbagai tujuan dan ekspresi. Penulisan satu posting dalam seminggu untuk kategori “berat” dan “spesifik” bisa jadi sudah amat banyak, semisal jurnal-jurnal ilmiah atau kajian-kajian, penelitian dan sejenisnya.
Di sisi lain, satu posting untuk satu hari bisa dianggap sedikit untuk kategori berita.

4.c. Style Penulisan Posting
Gaya posting setiap blogger berbeda-beda, ada yang implisit, ada yang eksplisit, semua memiliki “pesona” dan “warna” tersendiri.
Sisi ini dapat mencuatkan daya tarik untuk dikaji. Tanpa terasa, pengunjung sudah berada dalam “aula” interaksi dialogis dengan berbagai dinamikanya.
Tentu masih dimungkinkan menyisakan style umum yang runtut, semisal tip dan trik atau panduan-panduan.

4.d. Komentar dan Interaksi
Yang ini sudah tersirat dalam materi posting, kontinuitas dan style penulisan.
Dialog interaktif berupa “tulisan” bisa jadi menggugah pembuat review ketika berisi komentar nan membahana, gegap gempita, kadang diseling canda. Perbedaan-perbedaan pun tercipta. Tiada akhir, tiada kesimpulan, benar-benar dinamika dialogis terbuka.
Kadang ada sentuhan akhir “cooling down”, kadang tetap “terbuka”, ibarat menunggu lanjutan sentuhan dialogis babak berikutnya.

Di dunia nyata interaksi “dialogis” semacam ini amat sulit diwujudkan. Seperti terungkap salah satu posting, terhalang banyak hal menyangkut, siapa, apa, bagaimana, di mana dan “unggah ungguh” lainnya, yang kadang justru menutup pintu “olah pikir dan ide”.

K e s a n
Awalnya, kata kesan adalah “kesimpulan”. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, maka saya ganti dengan “kesan”.
Saya yakin setiap review kemungkinan menyimpan kesan masing-masing. Dan mungkin pula secara sadar ataupun tidak, kesan tersebut mendorong keingin tahuan.

E p i l o g
Terimakasih telah sudi membaca sampai kalimat akhir.
Uraian posting ini hanyalah pandangan pribadi yang amat subyektif. Bukan dimaksudkan menawarkan bentuk review, terlebih sebagai panduan. Sekali lagi bukan.
Siapapun bebas mengemas review, sebebas seorang blogger mengekspresikan ide, pemikiran, harapan dan lainnya.

Dan yang terpenting, review diharapkan (khususnya harapan saya) menumbuhkan sikap saling “respek” dalam menyikapi perbedaan walau tak jarang dibumbui dengan “letupan-letupan”.
Ada saran ?
Tertarik membuat review blog pribadi ? Atau milik temen sendiri ?
Mari berbagi.

Semoga sukses, selamat nge-blog
Salam

catatan:
Sebagian kalimat, saya kutip dari review panjang yang sedianya saya tayangkan, tetapi saya putuskan membatalkannya karena berbagai pertimbangan.
Sayapun sedianya ingin membuat eBook sebuah blog yang menurut saya bisa memberi akses untuk bidang tertentu, tetapi sementara menunggu saat tepat dan ijin dari pemiliknya.
Bentuk eBook direncanakan menggunakan format exe standalone berbasis html, dengan pertimbangan agar dapat dibuat CD Autorun.
Kerangkanya sih sudah siap (beberapa sampel pilihan template opensource). *hah tuiing*

28 Komentar »

  1. Gabrielle said

    Menurut saya agak tidak etis kalau kita me-review blog orang lain tanpa persetujuan blog yang bersangkutan. Tapi adalah ide yang baik kalau ada yang mau memulai membuat blog yang dikhususkan untuk me-review blog2 yang ada. Seperti yang ini atau yang ini. Sayangnya mereka hanya me-review blog yang berbahasa Inggris. Mari kita buat edisi Indonesia-nya🙂

  2. Luthfi said

    byoohhhhhhhhhhh

    Pertamax!!!!!!

  3. fulan said

    @ Luthfi,
    Wah, tengah malam wis absen.
    Ntar saya mau mancing fish di kolam Mas Luthfi.😛

  4. Siiip cukup lengkap, suatu pengamatan yang jitu, tidak salah untuk dijadikan pedoman, meskipun itu tidak mengikat. Suatu ketika akan ada teori review blog. Bisa dikembangkan lebih lanjut. Cerdazz.

  5. fulan said

    @ helgeduelbek,
    Harapannya sama pak, rasanya akan ada yang mengembangkan.
    Ini semacam tawaran aja, nambahi poin-point yang masih mungkin dijadikan bahan review. Seperti yang sudah dilakukan teman-teman di atas, ceritanya nunut, nanti saya bisa ikut menikmati. hahaha.
    Lha piye, wong memahami satu posting plus interaksinya saja kadang mblenger, makan waktu, makanya kadang saya offline-kan setelah buka tautannya.
    Kalau saya lebih tertarik bikin ebook, terutama posting yang konsisten dalam satu bidang tertentu. Gak terlalu banyak mikir, tinggal nyalin, lalu dijadikan ebook dalam kemasan CD, kemudian diserahkan kepada pemilik blog. *ngayal*.

  6. passya said

    mulai dari diri sendiri!
    kapan review blog bung fulan? ditunggu!

  7. wadehel said

    Ebooknya ditunggu! gratis yaaaa😛

  8. Mbah Keman said

    Hasil…penjualan ebook jangan lupa sumbangkan buat DPR,,dari pada minta tunjangan terus…mereka itu memang layak mendapat tunjang sikil..trims,,

  9. fulan said

    @ passya,
    Jangan gitu ah, idealnya sih begitu ya.
    Tapi saya kan masih pemula, bagian menghasut lalu ikutan mengambil manfaatnya. hahaha.

    @ wadehel,
    Lho koq pada ngomongin eBook, itu kan masih ngayal, baru tertarik dan ingin. Saya belum bikin surat terbuka untuk itu, minta ijin dulu sama yang punya blog. Kalo emang dianggap berguna, ya bikin lagi. Kalo dari sayanya sih tentu gratis, setelah dipegang yang punya, terserah aja. Sabar ya.😀

    @ Mbah Keman,
    Moga diijinkan sama yang punya blog Mbah, sudah ada beberapa yang saya incar. *koyo detektif*
    Itupun satu-satu, kalo langsung bikin 2 atau lebih, lha kapan saya ngeblognya. hehehe
    Ini hanya seneng-seneng aja, karena kebetulan pernah bikin cuman bukan isi blog.
    Soal tunjangan de-pe-er, sudah dibahas Kang Kombor di sini.

    @ Gabrielle,
    Maaf, komen mbak Gabrielle dimoderasi, mungkin karena ada 2 tautan, saya baru tau setelah login.
    Betul, saya setuju. Kang Adhi sudah melakukannya, beliau sedang bikin review salah satu blog setelah mendapatkan ijin pemilik blog. Kita tunggu aja, menurut beliau perlu waktu lama.
    Saya udah lihat 2 link, yang satu gambarnya ehm…ehm, satunya pakai scoring.
    Bagi teman-teman, sekaligus saya tulis ulang saran mbak Gabrielle perlunya persetujuan dari pemilik blog, sekiranya akan mereview. Terimaksih sarannya.😀

  10. MaIDeN said

    Too many parameter kawan …
    Mending fokus ke artikel yang sedang ditulis aja.
    Misal what the hell nulis Tuhan itu Laki-laki. Then yang kita review ya artikel/tulisannya itu saja.

    Kalau mereview blog pake parameter yang segudang itu bisa habis berlembar-lembar kertas A4😉

    IMO, kalau mau mereview blog orang mending kayak yang sudah dilakukan a fatih syuhud aja.

  11. fulan said

    @ MaIDeN,
    Iya betul, satu artikel memang bisa lebih fokus, detil, lebih seru dan bisa sama-sama berinteraksi, itupun sudah makan waktu.

    Sedangkan review total, agak berat, tapi sudah ada yang melakukan.
    Kita tunggu aja. Kalo kertas rasanya gak perlu, bisa pdf atau format lain kemudian kirim email atau disimpan di layanan penyimpanan online.
    Trims ya, sarannya.

  12. Mas Fulan, ada contoh review blog (apa saja) yang disebutkan diatas ?

  13. Kang Adhi said

    Saya kira minta ijin review itu takarannya sopan-santun (etiket, bukan etika) dan bukan wajib. Karena begitu suatu tulisan/blog dipublish ia berada di dalam domain publik. Milik publik. Sekarang misalnya, anda mau review blognya SBY (dan sudah ada yang melakukan, langsung atau nyindir).

    Trus mau minta ijin dulu? apa lagi kalau reviewnya suatu kritik kontra. Kalau ada pertanyaan: Misalnya yang direview tersinggung atau reviewnya ngawur, gimana? Khan tinggal dibuat posting tandingannya, sehingga pembaca dapat menilainya. Dengan blog, menurut saya, kita dapat menulis yang paling ngawur atau sangat bertanggungjawab. Itu masalah nurani saja.

    Banyak blog juga membuat review, entah berita koran, info kemajuan IT dsb, atau sekedar menyindir. Tidak perlu ijin. Membuatnya sebagai aturan atau kesepakatan, adalah setback cara berpikir dalam open minded society . Sebuah pengingkaran akut dari filosofi blogsphere.

  14. Kang Adhi said

    lha barusan saya kasih koment panjang kok gak masuk?

  15. fulan said

    @ fertobhades,
    Rasanya mas fertob sudah ikutan. Coba cek ulang tautan di bawah ini:
    1. Link antek-antek review Kang Adhi, dari sudut pandang …

    2. Link review Bung Tajib, yang kemudian berlanjut postingan ini

    3. Link dari Gabrielle bloggyaward memakai skor berdasarkan 5 parameter.

    Tidak ada kaidah khusus tentang review koq Mas, tetapi sebagai perbandingan tak ada salahnya lihat-lihat. Bisa juga dengan ukuran-ukuran lainnya.

  16. fulan said

    @ Kang Adhi,
    Maaf Kang, nyangkut moderasi, gak tahu tuh kenapa, padahal gak ada huruf aneh, akismetnya lagi ngambek kali.
    Di Epilog sudah tertulis Siapapun bebas mengemas review, sebebas seorang blogger mengekspresikan ide, pemikiran, harapan dan lainnya.
    Adapun saran dan pandangan teman-teman tetap saya hormati sebagai bentuk kebebasan ekspresi itu sendiri.
    Demikian pula soal sopan santun, terpulang kepada masing-masing blogger.
    Terimakasih atas pencerahannya.
    Gimana ? Bisa dirojer gitu, ganti.😀

  17. Kang Adhi said

    Hehe. amin.amin. Eh, si amin sering dipanggil2, udah bikin blog sendiri belum dia yak?

  18. Biho said

    Setuju sama kang Adhi…

    Mas Fulan cepetan ya nggak pake lama bikin ebook nya..🙂

  19. Menarik mana, me-review blog atau bloggernya?

    Kang Kombor melihat, meninjau sebuah artikel blog parameternya akan lebih sedikit daripada meninjau sebuah blog. Meninjau sebuah blog ibaratnya meninjau sebuah buku (resensi). Bedanya, resensi buku itu bukunya sudah selesai ditulis. Kalau blog, kita nggak tahu kapan blognya akan selesai ditulis. Pada sebuah artikel (blog post) kita bisa mengasumsikan proses menulisnya sudah selesai pada saat ditayangkan. Kalau pun ada kesempatan melakukan perubahan (editing) diharapkan perubahannya tidak makro.

  20. fulan said

    @ Biho,
    Maaf Mas, terlambat jawab, mulai pagi listrik mati. Samarinda kena giliran 2 hari sekali.
    eBook tentang Sangatta ya. hehehe.
    Sabar dong, karena menyangkut isi blog secara keseluruhan, saya merasa perlu minta ijin terlebih dahulu.

    @ Kang Kombor,
    Menurut saya dua-duanya menarik.
    Iya Kang, meninjau artkel blog masih berpeluang berkelanjutan seperti “PP No. 37 tahun 2006”. hahaha, gimana ?
    Sedangkan review isi blog, salah satu hambatan (tidak selalu dipandang sebagai hambatan) diantaranya waktu. Tapi bisa koq dibuat interval, itupun masih bisa berlanjut.

  21. Ini cerita pengalaman saya, tentunya amat subjectif dan bias;

    Blog saya diulas oleh seseorang kandidat PhD (Pecah Ndase) dari Groningen. Akibat tulisan beliau yang cerdas ini. Blog saya dibanjiri trafic. Lebih parah lagi, inbox saya dimasuki email-email oleh Hamba Allah yang tidak mau disebutkan namanya.

    Bencikah saya kepadanya? Tentu tidak… Buat apa benci-benci walau akhirnya menjadi rindu juga (*jijay, ini mah lagunya betharia sonata yang dibredel Harmoko*).

    Cintakah saya kepadanya? Tentu saja tidak, cinta saya sudah tertambat pada seorang gadis manis yang berasal dari desa tetangga.

    Kesan saya, tulisan saya menjadi lebih berbobot. Sebab ada beberapa ulasan yang masuk dan mengena. Bukan hanya substansi belaka.

    Review tulisan, bagi saya, cambuk yang menarik. Lepas dari konteks si pe-review minta ijin atau tidak. Membuat saya, yang pemula ini, menjadi lebih banyak menulis. Dan lebih berhati-hati. Sebab analisa dan data yang kita paparkan kepada publik, ternyata diuji/dikaji ulang hipotesanya.

  22. fulan said

    @ Arif Kurniawan,
    Maksudnya review oleh Kang Adhi ya.
    Tentang kearifan lokal yang padat dan ber-nas.
    Saya sampai ikut mumet memahaminya.
    Beliau memang hebat, tulisannya enak dibaca dan runtut.
    Saya suka membacanya.
    Banyak blogger yang seperti beliau.
    Saya sih bagian mempelajari, mengambil manfaatnya. hehehe

  23. fulan said

    @ Kang Adhi,
    Walah Kang, nyangkut lagi, sampai telat mbalesnya.
    Sudah bikin, Amin walikota kami, tiap tahun menganggarkan “PDKE” (pengelolaan data kota elektronik” senilai 2 milyar. Hebatnya, 2 tahun gak pernah update, dprd-nya manggut-manggut. hehehe.

  24. Shinta said

    sekarang review, nanti siapa tahu tulisan blog bisa jadi bahan disertasi🙂

  25. fulan said

    @ Shinta,
    Ya, mungkin saja mengingat isi blog yang beragam.
    Kalau skripsi sudah ada. Bulan Desember 2006 saya dapat email nyasar dari 2 orang mhs, yang satu minta saya jadi responden, satunya menanyakan BOR (bed occupacy rate) atau angka hunian untuk orang opname di RS, … nah yang kedua ini mana saya tahu. hehehe. Bilangnya untuk bahan skripsi. Saya sebenarnya mau tertawa, tapi akhirnya googling dan ngirim artikel yang diminta, heran …
    Ada juga untungnya, paling tidak pernah baca BOR. *jajan apa tho ini*

  26. Andalusia said

    Kalau kita mereview filem atau meresensi buku kan ndak perlu minta ijin si pengarangnya. Review kan tujuannya supaya tidak menyesatkan atau memberikan informasi singkat agar pembaca bisa memilih/menimbang butuhkan/tidaknya mengunjungi blog tersebut.

  27. Untuk apa berpuasa

    Rasulullah saw bersabda: banyak umat Islam yang berpuasa tetapi tidak memperoleh makna puasanya kecuali cuma lapar dan dahaga. Allah juga berfirman, bahwa sesungguhnya berpuasa itu lebih baik daripada tidak berpuasa. Sayangnya selama ini kita tidak mengetahuinya. Inilah buku yang membahas makna puasa secara komprehensif dan holistik. Medis dan spiritual. Yang bakal meng-antarkan anda kepada cara untuk menjadi lebih bertakwa.

    Beli buku Pak Agus mustofa dapat di lihat di http://www.admiber.com

  28. Sure, there are debt settlement law firms out there, and
    some of them are very good at what they do. However, some of these firms
    charge 25% or more of the enrolled debt. Many, if not most, consumers
    simply canТt afford to pay fees of this magnitude. Also, being an
    attorney in one state does not offer any special protection to a
    consumer in another state where that attorney is not licensed. ItТs
    simply not necessary to hire an attorney to settle your debts. Most
    consumers can handle it on their own with a little training and
    coaching.
    debt settlement vs debt consolidation

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: