Menerawang kisi-kisi Desentralisasi

pundi-pundi rakyatKendati otonomi daerah atau desentralisasi sudah sering dibahas, menarik diperbincangkan terus menerus. Maksudnya tak lain sebagai pengingat, bahwa tujuan utama desentralisasi adalah meningkatkan harkat hidup khalayak, dengan berbagai parameter di setiap komponen penyelenggara pemerintahan.
Beberapa blogger juga menulis dengan beragam gaya dan nada.

Up date: koreksi dari Kang Adhi *trims ya*
Sekilas desentralisasi.
Desentralisasi adalah pengalihan tanggung jawab, kewenangan, dan sumber-sumber daya (dana, manusia dll) dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
Secara umum, desentralisasi mencakup aspek-aspek politik (political decentralization); administratif (administrative decentralization); fiskal (fiscal decentralization); dan ekonomi (economic or market decentralization).

Dekonsentrasi (bagian dari Desentralisasi administratif), adalah pelimpahan wewenang dari Pemerintah Pusat kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat.
Catatan: berdasarkan PP. No.39 tahun 2001 tentang Penyelenggaraan Dekonsentrasi, pembiayaannya dari APBN.
Sumber:
Format Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah yang Mengacu pada Pencapaian Tujuan Nasional, oleh: Dr. Machfud Sidik, M.Sc, Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Departemen Keuangan RI.

– » batas up date *banyak juga*
Selengkapnya: lihat tautan Sistem Informasi Keuangan Daerah di paragraf bawah.

Otonomi Daerah dan desentralisasi bak sebuah paket kenikmatan bagi Pemerintah Daerah. Dambaan yang telah lama ditunggu. Alat “pembelaan” pada masa lalu bila Pemerintah Daerah “ditegur” Pemerintah Pusat.
Dianggap “prasyarat” paling utama bagi kelancaran penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah.

Maka, diberlakukannya otonomi daerah yang kemudian pelaksanaannya mengejawantah sebagai desentralisasi, bak bendungan ambrol menerpa pejabat daerah.
Tergagap, kaget sembari senyum simpul.
Tak ayal, yang terjadi bukan mengalirnya amanat undang-undang memenuhi hajat rakyat.
Pemandangan kusam penyelenggaraan desentralisasi ibarat menu tahunan yang mau tidak mau kita saksikan.
Jalan berlobang, urusan ribet, sekolahan reyot, puskesmas kumuh, pasar sumpek, parit mampet, banjir di pemukiman, hutan gundul, sungai mendangkal, sawah berubah fungsi, pantai rusak, listrik byar pet, air netes, BBM naik, kemiskinan bertambah, pengangguran tak berkurang, dan lain lain. (banyak sih, sampai tidak ingat saking banyaknya)
Itulah (diakui atau tidak) hasil pelimpahan sebagian wewenang, wewenang urusan dan wewenang mengelola uang.

Alhasil, gambaran desentralisasi di satu sisi menampakkan kemelaratan, nun di sisi lain menampakkan kemewahan para penentu alur pundi-pundi rakyat bersama segenap kroni akses nya.
Tiap tahun ramai-ramai bikin anggaran, sekaligus ramai-ramai menghabiskan.
Masa sih harus dihabis-habiskan ?
Masa sih tidak boleh menyimpan anggaran sisa ?
Masa sih tidak boleh punya cadangan ?
Bila sudah begini, ketika kejadian tak dikehendaki datang, kalang kabut, selanjutnya ya hutang.
Maka, mengalirlah jawaban pembelaan diri.
Kan tidak ada alokasi untuk itu ? Kan menganut neraca seimbang ? Kan selisih inflow dan outflow sama dengan nol ?

Jadi ?
Tidak terlalu salah bila ada penialian miring bahwa desentralisasi nyaris identik dengan memindahkan wilayah korupsi terbatas, menjadi wilayah korupsi teramat luas. Bila tadinya pundi-pundi rakyat tersimpan di beberapa gedung, kini menyebar kesegala penjuru tanah air di berbagai tempat yang makin sulit diendus.

Disimpan di bookmarks blogger bisa gak ? Simpan di penyimpanan online bisa kali , kalau perlu tinggal download , gak bakalan terlacak koq.

Saking nikmatnya isi pundi-pundi rakyat, ada daerah yang tak segan masih menuntut tambahan “kue” menggunakan berbagai argumen. Tidak peduli argumen irrasional, yang penting menuntut. Alasan bisa ditekuk agar tampak “masuk akal”, jika perlu “dimasuk-masukkan akal”. Yang penting, ada dukungan penyuara rakyat, ada usulan penyelenggara pemerintahan, ada komponen pendukung untuk memperkuat tuntutan.

Apa lacur, harapan tinggal harapan.
Tak sedikit dana kepentingan rakyat tersendat parkir di dalam pundi-pundi pelayan rakyat bahkan pundi-pundi wakil rakyat serta pundi-pundi yang tak jelas keberadaannya.
Seolah dekat tetapi sulit digapai, seolah kasat mata tetapi sulit dilihat, saking pandainya pemegang pundi-pundi menyembunyikannya.

Kekuatan perangkat apalagi yang bisa membendung kebocoran uang rakyat ?
Sistem ?
Makin mbulet sistem, makin banyak dana hilang.
Kepatuhan terhadap sistem ?
Ah, siapa juri penilainya, apa pula bentuk punish dan rewardnya.
Hukum ?
KPK saja ditembaki, pejuang anti korupsi beralih fungsi menjadi pembela tersangka korupsi.
ESQ ?
Ups, latah, mereka menganggap setetes air bisa memadamkan kobaran api.
Keikhlasan ?
Siapa bisa ngukur ? Wong letaknya dalam hati, makin sering diomongkan makin ragulah yang mendengarnya.
Tergantung orangnya ?
Halah, kalimat ini nyaris berbau kepasrahan walau ada benarnya. Lha yang tadinya idealis, pendemo jempolan, pengamat tivi hebat (kelihatannya) menjadi tambun ketika berada di tumpukan pundi-pundi rakyat.
Hidayah ?
Karunia ini hanya dikehendaki oleh Sang Maha Pemberi. Patutkah penyimpan pundi-pundi rakyat meraihnya ? Bisa saja, itu wilayah-Nya.
Takdir ? Ambil hikmahnya ?
Jikalau sudah begini, selesai.
Rasanya kita diberi otak, hati dan anggota tubuh gratisan untuk saling memberi manfaat.

Bangsa ini dikaruniai berbagai bentuk kekayaan melimpah, sayang.
Namun saya optimis masih bisa diperbaiki, terbukti dengan makin diperketatnya rambu-rambu pengelolaan (khususnya) keuangan, salah satunya melalui Sistem Informasi Keuangan Daerah.
Kita berharap kinerja KPK menelusuri, memproses, mengungkap sangkaan penyalahgunaan uang hingga ke daerah tingkat II tidak terganggu oleh kepentingan lain.
Semoga.

Topik terkait:
Mengharap kesungguhan wakil rakyat

sang adipati jadi tersangka

9 Komentar »

  1. Kang Adhi said

    desentralisasi sama deconsetrasi bedanya apa ya? dulu pernah tahu sekarang lupa, hehe

  2. Mbah Keman said

    Fulan usul dari rakyat…besar (kalau rakyat cilik,,itu sudah biasa)
    Ini adalah krsis diri dan kepercayaan,,,,,
    giman kalau keungan dan anggaran Negara yang pegang negar lain contoh singapore…dan administarsi Negara juga yang pegang mereka….

    kelemahan orang indo itu ..
    Gak penah konco dewe,
    silaf paling
    memaafkan
    masih saudara
    kita juga pernah dl

    akhirnya aturan tinggal aturan,,,,

    coba kalau orang/negara lain…ada kesalahan Pecat,
    korupsi, sikat
    ngapusi bunuh
    kolusi perang

  3. fulan said

    @ Kang Adhi,
    alaaah mau ngoreksi aja malu-malu, hehehe.
    Siap up date Kang.
    Trims koreksinya.

  4. fulan said

    @ Mbah Keman,
    Sabar … sabar Mbah.
    Pernah ada “guyonan” semacam itu. Ceritanya nggaji orang asing untuk mengelola negara sampai tingkat daerah. Terus kerjaan kepala d***ah, dan seterusnya sampai ke atas mung upacara, rapat, mlaku-mlaku.
    Kayak republik mimpi yang di tipi.
    Berhubung usulannya dari rakyat besar, baiknya disampaikan kepada yang besar-besar, misalnya Kumbokarno. hehehe.

  5. Lewat Pajak bisa ga mas?
    Karena sudah desentralisasi, bukankah dinas pajak menjadi salah satu bagian yang terbesar dalam proses ‘meluruskan’ uang rakyat.

    Walaupun ada pertanyaan, siapa yang akan ngawasi Dinas Pajak?
    ‘who’s going to watch a watchdog?’
    Saya pikir kerjasama dengan media adalah salah satu jalan keluarnya. Transparansi.

    Peran media amat penting dalam proses desentralisasi.
    Semoga teman-teman dari dunia jurnalistik ‘ngeh’ dengan isu tersebut.

  6. passya said

    lho kok nyambung sama postingan saya hari ini ???

  7. fulan said

    @ Arif Kurniawan,
    Ya bisa, pungutan Pajak dan Retribusi merupakan desentralisasi fiskal. Inipun masih dipilah-pilah. Disinyalir ada ketimpangan dalam hal kontribusi tiap daerah (ratio mencapai 1:600), sehingga berimplikasi pada pembagiannya.
    Soal pengawas, repotlah. Bawaskot dan Bawasprov sepertinya belum optimal. Moga aja KPK gak terganggu.
    Peran media dan masyarakat sangat diperlukan, saya sependapat.
    Oke, transparansi salah satu kata kunci. Selama sekitar 3 tahun ini peran media sudah nampak, tetapi agak kesulitan mendapatkan data akurat dari Tingkat II.
    Seandainya tingkat II menggunakan billing system mungkin bisa mengurangi kebocoran. Tetapi tingkat II mana mau, kan gak bisa otak-atik entry hehehe.
    Mungkin blogger bisa ikut berperan. Paling tidak gerakan moral dalam bentuk tulisan. Wuih panjang banget, sory ya.

    @ passya,
    Malah kebetulan, kita tulis banyak-banyak tentang korupsi.
    Biar yang merasa korupsi dikit-dikit nyadar, atau malah tambah ndadi.😀

  8. Saya ngamati didaerah saya tentang korupsi wuih tambah ugal-ugalan kang, saya tahunya yah di wilayah pendidikan saja. Polesannya agar tidak dianggap sebagai tindakan korupsi itu lho… norak banget. Pemerasan berkedok semakin merajalela. Nyatanya mereka tiap hari denger/baca berita tentang tertangkapnya koruptor tidak gentar, malah semakin pinter mengamati untuk mencari celah yang aman. Udah gitu… istilah putra daerah… ampun dah.

  9. fulan said

    @ helgeduelbek,
    Di mana-mana sama ugal-ugalan pak, karena korup sudah bukan hal yang harus disembunyikan. Seperti lomba makan krupuk agustusan, berebut, malah senang karena ditonton orang banyak, meriah. Dan terjadi di banyak departemen / instansi / dinas / kantor dll. Sayang ya, banyak orang pinter yang menggunakan kepandaiannya untuk ngapusi. Mungkin penganut “yen ora edan ora keduman”.
    Soal putra daerah, kalau ngga salah biasanya dilontarkan bila sudah menyangkut jabatan atau kekuasaan. Di tempat kami dulu juga ramai pak, sekarang sudah berkurang.
    Lho , koq malah serius semua. hehehe

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: