Jadi dalang saat ujian

Rasanya semua mafhum bahwa (secara spesifik) tugas pelajar, mahasiswa, guru, dosen adalah belajar dan mengajar.

Pertanyaannya:
Apakah semua komponen “belajar mengajar” tersebut benar-benar menyempatkan belajar setiap hari ?
Atau … berapa jam per hari ?

Ganti pertanyaan:

  • Berapa jam rata-rata belajar per hari ?
  • Berapa kali belajar dalam satu minggu ?
  • Berapa kali belajar dalam satu bulan ?
  • Berapa kali belajar dalam satu semester ?

Jawabnya beragam.
Saya hanya nulis pihak yang sedang belajar, sedangkan pengajar dan yang sudah “bekerja” gak ikut-ikut …
Cara belajar bagi pengajar sebaiknya tanya pak Guru.

Anak-anak SD dan SLTP, pada umumnya memiliki record jam belajar lebih banyak dibanding kakak-kakaknya ( SLTA dan mahasiswa ).
Mungkin karena dijejali PR, atau takut dimarahi atau takut dicubit mama, atau kesadaran, atau ….
Kesadaran belajar biasanya tumbuh saat SLTP.

Pelajar SLTA, kebanyakan sudah menentukan sendiri waktu-waktu belajar.
Kadang peran orang tua masih dominan. Teman dan lingkungan disinyalir ikut berperan.

Gimana pola belajar mahasiswa?… walahhhh … silahkan jawab sendiri.
Tapi tergerak juga nulis dikit …
Bisik-bisik di kalangan mahasiswa menyebutkan bahwa kebanyakan ngebut belajar ketika menjelang ujian (kuis, uts, us).
Ada yang bilang sekitar 2 minggu, ada pula 1 bulan sebelum hari H. Dan ada juga yang belajarnya pas minggu tidak tenang.
Nah … penggemar belajar saat minggu tenang ini boleh dikata mirip pak dalang.
Melekan sepanjang hari … hapal saat ujian, setelah itu wes ewes ewes lupa. Ganti belajar mata kuliah berikutnya, melekan lagi … wes ewes ewes …
Maka, guyonan saat kuliah, belajar model dadakan dikatakan:
jadi dalang saat ujian … πŸ˜€

Bagi yang biasa menyempatkan belajar setiap hari, walau hanya 1 jam, akan lebih beruntung karena ilmunya kemungkinan lebih lengket, walaupun IP-nya kalah dengan belajar model dalang.
Lho, apa belajar setiap hari merupakan jaminan bakalan mendapatkan ilmu lebih berkualitas ?
Bisa saja to, belajar cara cepat langsung melekat, mengoptimalkan sinkronisasi otak kanan, otak kiri atau psikomotor ?
Bukankah masih ada parameter lain misalnya, efisiensi, efektifitas dan lainnya ?
Wah, kalau dicecar pertanyaan di atas, jawabannya: … saya tidak tahu.

Fenomena lain adalah bank soal, kumpulan soal, koleksi soal, apalagi ?
Yang ini konon bisa dipakai sebagai alat dan berpotensi menciptakan pengkotak-kotakan. Semacam senjata doktrinasi, kalo bukan kelompoknya gak bakalan dan gak boleh dapat kopiannya.
Apa benar sih ? … entahlah …

Lalu, … mau belajar model apa ?
Pilihan ada pada diri masing-masing.

Halo mahasiswa luar negeri … gimana di sana ?
Gimana di Belanda ? … halo Perancis … halo Jerman

24 Komentar »

  1. Mbah Keman said

    Belajar itu mudah kalau ada kemauan untuk tau dan menguasai, tapi kalo kemaunya hanya untuk dapat gelar dan Nilai,!pasti tertekan. pelajar yang benar-benar adalah mengahsilkan sebuah karya baru, bukan menguasai yang sudah di kuasai,,, maksudnya itu berkembang tidak monoton itu-itu saja…

  2. fulan said

    @ Mbah keman,
    Kata kuncinya “kemauan” dan “menguasai” ya Mbah …
    Saya baca koran hari ini, seorang kepala kepegawaian di kota saya mengatakan bahwa sekitar 3-5 orang kepala dinas tidak tahu “tupoksi” (tugas pokok dan fungsi) nya, padahal gelarnya dowo…
    Berarti kira-kira tidak berkembang dong …πŸ˜€

  3. Anang said

    saya dulu pake sistem sks.. sistem kebut semalam.. tapi manjur bro…

  4. Gabrielle said

    Belajar itu termasuk “hobi” juga, sih. Ada orang yang nggak “hobi” belajar, ada orang yang saking hobi belajar sampai benar-benar nggak punya kehidupan sosial sama sekali…

    Belajar itu kan sebetulnya supaya pintar. Nah, untuk pelajar yang kurang ambisius menjadi pandai (atau menjadi “yang terbaik”), belajar itu sifatnya “suka-suka”πŸ™‚

    Dulu waktu masih sekolah/kuliah, saya bukan tipe pelajar yang malas, tapi saya malas juga kalau harus mempersiapkan diri untuk ujian mata pelajaran/kuliah yang tidak saya senangi…

  5. fulan said

    @ Anang.
    Rata-rata yang saya tanya memang lebih menyukai kebut semalam.
    Syaratnya kondisi fit …πŸ™‚

    @ Gabrielle,
    Menarik jika belajar jadi hobi, “kehidupan sosial” pun sebenarnya arena belajar juga ya…πŸ™‚

    Sepertinya kebanyakan mahasiswa memang begitu, … ada mata kuliah yang kurang disukai. Alasan paling umum, dosennya galak, mata kuliahnya sulit, cara ngajar tidak menyenangkan, … dll.
    Lha, yang disukai seperti apa ?πŸ˜€

  6. passya said

    Sistem Kebut Semalam terjadi karena kita dituntut MENGHAFAL bukan MENGERTI!
    KaliπŸ˜€

  7. Wah jadi inget saat SMA dulu… Jadi saya dulu lebih sering ndalang saat SMA, waktu SMA belajar di genjot dengan SKS, rajin kalao ada PR saja. Tapi selama Kuliah saya dulu rajin pol. Yah itu karena karakter tipe mata kuliah kali yang nuntut harus sregep, lah wong seminggu minimal bikin laporan praktikum 2-3 biji, tapi kalau mata kuliah umum, lihat bukunya saja malas, lebih suka diskusi langsung ama dosennya.

  8. juliach said

    Belajar apa? Mau jadi apa nantinya? Di sini semua pekerjaan dihormati, tergantung dgn kemampuan/pilihan kita masing-masing. Di Indonesia, kalo sudah jadi petani artinya miskin aja.

    Di Perancis, anak SD engak dikasih PR sedabrek kayak di Indonesia. Ingat ngak: menulis halus, kita harus ngopy 1 halaman penuh. Di sini, Ines hanya menulis 3 kata/baris & hanya 2 ato 3 baris saja. Membaca/membuat komik di rumah, itu sudah termasuk belajar (kata bu gurunya).

    Waktu saya ngedrill Ines u/ math, ternyata ditentang sama gurunya. “Ngak perlu, nanti anaknya bisa cepat bosan & stress”.

    Berlibur/jalan-jalan itu belajar juga. Masuk dalam ilmu apa, ya? Geography? Tourisme? Marketing? Ilmu klenik? Hi..hi…hi…
    Dulu hal ini sering ditentang sama ortu, Bapak khususnya, alasannya : pergi sama cowok2, menghamburkan uang, lebih baik belajar entar ngak lulus-lulus kuliahnya, yayayaya….yiyiyiyi….
    Tapi hal ini sempat jadi penghasilan utama saya (sekarang lagi belajar sabar & ngomah), yg hasilnya tdk kalah dgn orang kantoran & lulusan S2…S3…S4….
    Santai lagi……..

  9. fulan said

    @ passya,
    Jangan ngaget-ngageti ah …. mungkin betul jugak. Tapi kalo para guru dan dosen mau berbagi melalui diskusi kayak gini, bisa jadi di masa mendatang lebih bagus. Apalagi sudah ada beberapa bapak guru yang memeloporinya, seperti pak helgeduelbek dan kawan beliau di blog guru.
    Gimana kalo beliau-beliau kita do’akan diberi kepercayaan sebagai pengambil keputusan…
    Setujuuuu … vivat para guru.

    @ helgeduelbek,
    Sebenarnya posting ini tidak dimaksudkan membuka rahasia pola belajar kita, termasuk saya sendiri tentunya … hehehe.
    Semasa kuliah rajin poll ya, … contoh bagus bagi temen-temen mahasiswa.
    Diskusi langsung memang lebih enak pak, sama deh… modalnya cuman gak malu dan sedikit bondo nekat… tapi sering dioloki sama temen yang gak kebagian cipratan hasil diskusi, bilangnya ilmu kulakan, …πŸ˜€

    @ juliach,
    Kalo boleh tahu, berapa mata pelajaran siswa SD di Prancis ?
    Jangan kaget, di indo pelajaran SD sebanyak gendongan rangsel di punggung.
    Kalo pas pulang ke Indo bisa di foto anak-anak SD saat ke sekolah, terbongkok-bongkok kebanyakan buku. Itupun sorenya masih les ini itu agar si anak jadi superman/supergirl.
    Di Singapura, anak SD rekreasi sambil belajar, berarti udah sama dengan Perancis. Beruntung Ines sekolah di sana.
    Malaysia yang dulu studi bandingnya ke Indonesia, saya dengar juga sama dengan Perancis … namanya saya jugak gak tahu … travel learning ?
    Bagaimana di Indonesia … saya hanya bisa komentar: Mudah-mudahan …
    Btw, saya tertarik dengan gaji yang sama dengan S2-3-4, sayangnya gak bisa bahasa Perancis sepatahpun … heheheπŸ˜€

  10. wadehel said

    *nggak merasa ditanya, jadi diem aja*

  11. fulan said

    @ wadehel,
    Hehehe … Selamat ketemu lagi …πŸ˜€
    *nyari oleh-oleh belum ketemu*

  12. mrtajib said

    wah…ojo ngritik masa lalu saya…..kok tego karo konco….

  13. azfa said

    walaaah… kalo umminya asiya sekarang tuh jadi dalang tiap malem.. nemenin asiya hehehe tapi gak buka buku padahal lagi ujain :)… doain dimudahkan..:)

  14. juliach said

    Saya sudah tulis sedikit artikel ini, cuma belum ditayangkan (otak saya masih ke sana-ke mari).

    Ines di kelas 2 otonomi (kelas ini ada 8-10 anak, levelnya campur), mata pelajarannya hanya : Bhs Perancis, Matematika, Ilmu pengetahuan (alam/sosial), olah raga (semester ini berenang), perpustakaan, komputer, art. Buku sekolah ditinggal di kelas, hanya bawa pulang 1 buku agenda + buku PR (diktat+buku tulisnya).
    Les di luar sekolah hanya tari balet, bahasa inggris : saya berikan sendiri (tahun-tahun lalu), sekarang dia yg aktif cari di sitenya British Council (English for Kids), International Children’s Library, How to draw Cartoon, dll & tanya saya kalau tdk ngerti.

    Pengin tahu khan rahasianya cari uang.
    1. Bawa pengusaha (mebel/art/dll) LN (saya special Perancis & Itali) ke Jogja/Salatiga/Surabaya/Jakarta/Kalimantan/dll. Untuk Mebel Jati di Jogja/salatiga/solo, jangan dibawa ke Jepara. Perak di Jogja, Emas di Makasar, Mutiara di Indonesia Tengah ke Timur. dll
    2. Bawa tourist 10-15 orang/group selama 2 minggu atau tourist special (biasanya untuk penelitian).
    Th. 2000, ke Rinca selama 1 bulan
    Th. 2001, saya (ex-suami ikut krn dia ingin belajar juga, momong Ines & setir mobil) bawa orang untuk penelitian harimau sumatra. Pekerjaannya dari minta ijin ke dep-hut, LIPI, meeting dgn Neil Franklin sampai ke Wai Kanan, Bukit barisan (ke G. Leuser saya tolak, takut GAM) pasang traping photo, ambil jejak kaki & ngetik artikelnya (maklum tangannya dia cacat). Salarinya bagus sekali, pulang kaki saya pada borokan dikroyok lintah. Kontrak 6 bulan.
    Masih banyak lagi.

  15. (pengalaman waktu kuliah)

    Karena saya orangnya “moody” soal belajar, maka belajarnya biasanya jauh-jauh hari sebelum ujian. Karena biasanya waktu ujian mood-nya justru pengen maen game. Nah lho… ?πŸ™‚

    Jadi, SKS nggak pernah masuk dlm kamusku….

  16. fulan said

    @ mrtajib,
    Sssst ojo omong-omong, … sebagian podo wae…
    *tolah-toleh wedi ketemon konco-konco*

    @ azfa,
    iya … iya… saya do’akan 3 matkul lulus semua … lho ujiannya kan besok.
    Salam untuk si kecil asiya

    @ juliach,
    Artikelnya saya tunggu lho …
    Pantesan di Indo kalah jauh, Ines yang klas 2 SD aja pelajarannya udah kayak gitu. Sekecil itu cari site sendiri … hebat, maksud saya ibunya Ines hebat.

    La dalah, salut…bisnis kayak gitu diperlukan mobilitas tinggi, koq bisa sih. …pake dikroyok lintah, … jadi teringat film adventure.
    Kontrak 6 bulan bisa untuk nyantai 3 tahun dong. hehehe
    Berarti tahun ini gak kemana-mana ya, nungguin adiknya Ines …
    Trims rahasia cari uang-nya, walau gak bisa kelas euro, paling tidak semangatnya bisa saya tiru…πŸ™‚

    @ fertobhades,
    Yang beginian biasanya pas ujian suka godain temennya, tul gak ?
    Temen saya yang pinter-pinter dulu suka gitu. Yang SKS jadi dalang, … eh mereka yang udah biasa belajar malah nonton film (dulu gak ada game)… nyantai, gak ada beban.πŸ™‚

  17. Saiful Adi said

    kalo saya liat, sebagaian besar mahasiswa dan siswa pake sistem SKS itu, sebagian kecil yang belajarnya rutin tiap hari beberapa menit atau beberapa jam. kecuali kalo ada tugas yang wajib dikumpulkan baru belajar untuk menyelesaikan PR ato tugas.

    Nasehat yang diberikan disekolah oleh guru tidak mampan untuk menunmbuhkan semangat belajar, sepertinya harus lingkungan yang mendukungnya, ya lingkungan Rumah, lingkungan bergaul, lingkunga bermain, juga lingkungan sekolah atau kampus betul ga Mas

  18. fulan said

    @ Saiful Adi,
    Betul Pak, tidak bisa semua dibebankan kepada para guru.
    Dan pola belajar, saya sependapat, lingkungan sangat besar pengaruhnya.
    Bila sejak SD sudah dibiasakan belajar tiap hari (tanpa harus niat rangking), maka anak menjadi terbiasa dan gak usah lagi di suruh-suruh.
    Saya sudah membuktikan, anak kedua masih SD sudah belajar tiap hari 1 jam, tanpa disuruh lagi. Seminggu sekali diminta menceritakan sebagian hasilnya, lalu dipuji, anak senang. …πŸ˜€

  19. Nadisa said

    nadisa kamu teh siapa ya kamu tinggal dimana

  20. Nadisa said

    berapa jam otak itu bertahan/baik untuk belajar?

  21. ariep said

    berpa jam otak itu bertahan untuk belajar

  22. arie said

    kalo menrt saya belajar lebih baik pada malam hari karena itu waktu yang efektif…n jangan pernah maksain tuk belajar makanya setiap hari niatkn tuk belajar mnimal 2 jm bwt formal…

  23. Anonim said

    Belajar harus di mulai dari diri sendiri dengan penuh kesadaran, yag ga? Kalo menurut saya potensi yang dimiliki otak kita sangat besar, bahkan kita pun mampu belajar secara kritis selama lbh dari 12 jam!! Betul! Aku pernah main ctr selama 24 jam dg kompter dan hanya istirahat 2 jam ditengah2nya.

  24. Anonim said

    Belajar harus di mulai dari diri sendiri dengan penuh kesadaran, yag ga? Kalo menurut saya potensi yang dimiliki otak kita sangat besar, bahkan kita pun mampu belajar secara kritis selama lbh dari 12 jam!! Betul! Aku pernah main ctr selama 24 jam dg kompter dan hanya istirahat 2 jam dipertengahan2nya.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: