lebih suka mendengarkan daripada membaca

Di suatu kesempatan seorang tokoh mengatakan :

” Akeh-akehe wong Indonesia iku seneng ngrungokno timbang moco. Ono sing seneng moco tapi gak bondo”. ( sebagian besar orang indonesia lebih senang mendengarkan daripada membaca. Ada yang senang membaca tapi gak mau pakai modal ).

Akan sangat dimaklumi bila orang tersebut tidak mampu membeli apa yang ingin dibacanya.

Persoalan baca membaca ini terbagi beberapa variasi, bergantung pada jenis, tempat dan kepentingannya.

Baca Koran dan Majalah.
Seseorang senang baca koran, tapi gak mau langganan karena berbagai alasan. Dia lebih suka “nonggo” ke “tempat tertentu” untuk membacanya.
Juru parkir mungkin bacanya di toko-toko. Pegawai dan karyawan mungkin di kantornya dll.
Enaknya baca dimana ?
Baca koran gratis di Bank Swasta mungkin enak. Bisa sambil melihat tingkah polah nasabah, kreditor, atau karyawatinya yang samlohai. Itupun kalo gak diusir satpam.๐Ÿ˜€
Penggila majalah gratis gak bisa se-leluasa baca koran. Selain tidak semua tempat menyediakan majalah, jenisnyapun tertentu sesuai selera si empunya majalah. Yang ini enaknya ke toko buku besar, misalnya Gramedia … sepuasnya baca dan gratis.

Baca buku.
Penggemar komik bisa baca gratisan di toko buku besar, bergabung dengan anak-anak sekolah.
Untuk buku pelajaran sekolah SD sampai SLTA, rasanya gak bisa gratisan. Harus beli atau ke perpustakaan.
Mahasiswa dan dosen, sudah lazim ke perpustakaan kampus saking banyaknya yang harus dibaca. Tapi ada juga mahasiswa mulai masuk sampai lulus, hanya sekali ke perpustakaan ketika harus mengerjakan tugas akhir untuk kelengkapan referensi.
Sssst … kabarnya ada dosen memberi macam-macam tugas kepada mahasiswa untuk keperluan si dosen. ( perlu apa sih? ).
Seorang netter penggemar ebook, leluasa download sesukanya di penyedia layanan ebook gratisan atau layanan lainnya sesuai spesifikasi yang dikehendaki. ( yang ini gak murni gratis, karena harus bayar pulsa akses internet, kecuali di kantor )

Ada pula yang kreatif. Di tempat saya, sebuah kelompok ojek terorganisir.
Mereka urunan untuk keperluan pemeliharaan tempat mangkalnya di pojok simpang empat .
Ngecat pangkalan, dan … diantaranya untuk langganan koran.
Ya, seperti di kantor-kantor langganan koran, tapi yang ini menggunakan uang mereka sendiri.
Setiap pagi, sambil nunggu jadwal narik penumpang, mereka baca koran bergiliran. Yang satu baca halaman depan, satunya baca berita olah raga, dan seterusnya.

Gambaran di atas, menunjukkan bahwa “sing seneng moco tapi gak bondo”, tidak serta merta berkonotasi jelek.
Bagi kutu buku pun tidak serta merta baik, bila menafikan bacaan lainnya di bidang tertentu secara membabi buta dan akhirnya tertutuplah kesempatan diskusi.
Beruntunglah para pembaca yang selalu ingat bahwa ilmu itu dinamis.
Pintu perkembangan akan terbuka baginya. Dan mungkin orang lain bisa mengambil manfaat darinya.

Bagaimana dengan yang “senang mendengarkan” doang ?
Yang ini juga tidak selalu negatif.
Mungkin hanya kurang beruntung karena informasi yang didapat tergantung pada yang menyampaikan. Serabut syaraf otaknya tak terlatih untuk berpikir dan analisa.
Kalo yang menyampaikan hanya itu-itu saja atau kelompok itu-itu saja, maka pendengar menjadi minim perbandingan dan mungkin cenderung tak berkembang.
Akhirnya punya pegangan ” kalo gak seperti yang didengar berarti salah“.
Di bidang tertentu, gejala ini tidak hanya milik saudara kita yang tak punya kesempatan belajar di pendidikan formal maupun informal.
Sebagian orang terpelajar (diukur dari status pendidikan dan pekerjaannya) ternyata juga bisa menempatkan dirinya sebagai “pendengar setia“.

Ironis …….

17 Komentar »

  1. Gabrielle said

    “Gratis” itu kata yang menggairahkan๐Ÿ™‚ Jaman (relatif) serba e-lit (ekonomi sulit) seperti sekarang ini, menurut saya kalau ada niat baca, meskipun nggak modal, itu lebih baik daripada orang yang nggak punya niat baca sama sekali…

    Saya sendiri merasa, kalau saya bukan pendengar yang baik, seperti mayoritas manusia di dunia ini. Saya lebih senang didengarkan daripada mendengarkan. Ah, saya memang egois ya?๐Ÿ™‚

    Masalah gratisan, ada yang lebih merepokan. Orang mau nikah tapi nggak ada modal, dan jadinya kumpul kebo. Tapi apa benar orang kumpul kebo karena masalah nggak ada modal uang? Kebanyakan sih karena nggak punya modal “tanggung jawab dan komitmen”, ya? Tapi mungkin kumpul kebo sedikit lebih baik dari pada ke “Gramedia”-nya urusan aurat – alias lokalisasi. Beda tipis, sih – morally speaking.

    Hehe. Jadi nggak nyambung…

  2. kikie said

    saya cuma ke perpus untuk cari referensi buat tugas-tugas … soalnya kalau buku selain referensi, di kost saja masih banyak yang belum kebaca๐Ÿ˜€ padahal di perpus sendiri banyak banget buku yang sepertinya menarik.

    ruang baca UPT II UGM udah bener belum ya :9 satu semester sejak gempa, masa’ belum selesai direnovasi. sebeeel.

  3. wadehel said

    Ah,,, sejak daftar sampe sekarang saya belum sampe 10 kali masuk perpus :’)

    sial, kesindir mulu nih saya.

  4. wadehel said

    Lho? saya udah komen toh๐Ÿ˜›

    Membaca pun kalau yang dibaca hanya itu-itu saja, efeknya bakal sama rusaknya. apalagi kalau yang dibaca tulisan jaman batu kadaluarsa, yang udah ga relevan sama jaman sekarang, tapi di yakini dan dilaksanakan dengan membabibuta.

  5. fulan said

    @ Gabrielle,
    Baca, gratis maupun bayar, jauh lebih bagus daripada ga baca.
    Membaca kayaknya pekerjaan mudah ya, … ternyata enggak. Buktinya ada mahasiswa nanya,: bagaimana supaya terbiasa baca dan cepat hapal…?
    Sayapun menjawab sekenanya: ” … nikmati aja baca, ngga usah mikirin hapal atau nggak hapal, ntar kalo udah menikmati kan hapal sendiri”. …*ngasal*
    Orang yang suka didengar daripada mendengar katanya berbakat jadi pemimpin, soal egois… saya ngga tau… ngga sampai nilai orang sejauh itu sih.
    Lha ini pelajaran baru untuk saya, “Gramedia aurat” ternyata sama dengan lokalisasi, …๐Ÿ˜€ …itu kan tempatnya penyakit … ngga ahh … hiiiiyyyyy.

    @ kikie,
    Buku yang di kost bukan koleksi kan ? … maap … maap … *becanda*
    Banyak yang belum kebaca berarti lebih banyak yang sudah dibaca … itu mah saking banyaknya buku, … bagi-bagi dong.
    Kalo renovasi seingat saya nunggu anggaran ya, …gak berani komen ah… urusannya rektorat dengan dikti dan pemprov kali …:D

  6. fulan said

    @ wadehel.1,
    Lumayan, … sudah hampir 10 kali ke perpus. Ditambah ke perpus raksasa punya om Matt sehari bisa sampai 2 kali. Sudah baca dan nulis sepuasnya, gratis lagi …
    Bisa kesindir jugak ya …. horeeeee berhasilllll … *suit-suiiit*๐Ÿ˜€

    @ wadehel.2,
    Lho, ini ceritanya mbales nyindir para dosen dan guru besar yang ngajarnya pakai referensi jaman beliau-beliau kuliah ya …
    Tapi kenyataan memang ada yang seperti itu, makai referensi baheula, tutup mata, tutup telinga, membabi buta plus “ngotot” …pokoknyaโ„ข
    *njiplak*๐Ÿ™‚

  7. agorsiloku said

    Mendengar, membaca, menyimak, menulis, berbicara. Itu keterampilan-keterampilan. Mendengar dan bisa menjadi pendengar yang baik adalah manusia berharga. Membaca dan banyak mengamalkan (melalui tulisan dan berbicara) adalah sedekah tak berkeputusan.

    Rasanya ada bagian-bagian dari budaya kita yang berkecenderungan lisan, yang boleh jadi tidak sesuai untuk mengejar sukses sebuah proses budaya. Susahnya, pola pendidikan kita mendukung untuk itu. Contoh, lulus di Jepang, harus membaca sekian novel (sastra), di Amerika sekian, Rusia sekian, di Singapura sekian buku. Di SMA Indonesia, cukup menghafal judul dan nama pengarangnya saja. Jadi proses formal pendidikan juga kurang menghargai keterampilan-keterampilan berkomunikasi.
    Payah memang, Taufik Ismail tuh, kalau kagak salah yang paling rajin mengeluhkannya.

  8. fulan said

    @ agorsiloku
    Ah … menyimak alinea pertama, komentar bapak, … sebuah sinergi rangkaian proses belajar menuju manfaat, saya jadi teringat Ihya’ Ulumuddin rubu’ pertama.
    Untuk pola pendidikan kita, menurut hemat saya, rasanya belum terlambat untuk memperbaiki, menengok ulang percikan ide Ki Hajar Dewantara yang kelahirannya kita peringati setiap tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.
    Kalau tidak salah, beliau dan kawan-kawan menggunakan ketrampilan komunikasi sebagai “senjata” melawan ketidak adilan kasta pendidikan penjajah.
    Sekarang ? …๐Ÿ˜€
    Termakasih kunjungan dan tambahannya.

  9. Terus terang saya lebih suka membaca daripada mendengar atau menonton. Koleksi buku dan bacaan saya malah udah beberapa lemari. Membaca lebih enak karena lebih bisa “berimajinasi” dengan bacaan.

    Ayo, ayo.. budayakan membaca….๐Ÿ™‚

  10. fulan said

    @ fertobhades,
    Kenikmatan membaca salah satunya daya “imajinasi” sebagai interaksi dengan bacaan dan aksesnya. Membaca cara begini tingkatannya sudah aduhai…
    Kalo para blogger rata-rata tukang baca, kalo gak biasa baca kan gak bakalan nulis … *eh, bener nggak ya*
    Saya punya kenalan, bukunya hebat … tertata rapi di ruang tamu, harga setiap set jutaan rupiah. Waktu saya tanya, buku mana yang paling sering dibaca.
    Jawabnya adalah: Belum …..๐Ÿ˜€

  11. Saya membaca tulisan Kang Fulan sepertinya kok adem ayem… semua yang tadinya bernada negatif bisa berubah bahasan menjadi positif, Seperti inilah semestinya isi blog yang harus saya baca. Untuk menetralisir pikiran saya yang selalu negatif terhadap sesuatu. Mudahan bisa.

  12. fulan said

    @ helgeduelbek,
    Lho, koq jadi begini …
    Setelah saya membaca dan merenungkan *gayane rek* komen bapak, saya merasa diingatkan untuk menulis bahasan positif. Padahal sejujurnya saya tidak mudeng batas positif dan negatif, lha tulisan saya kebanyakan menertawakan kebodohan saya sendiri sambil nyocokkan dan belajar dengan yang lain.
    Saya justru senang membaca tulisan bapak yang lengkap itu sebagai salah satu rujukan.

  13. Ferry said

    wahhh masih untung yaaa Kang Fulan hanya membahas “Lebih suka mendengarkan daripada membaca” coba kalau temanya “Lebih suka manut dan mengikuti daripada membaca dan mencari tahu” pasti lebih rame deh.

    he… he…

  14. fulan said

    @ Ferry,
    Ups, itu tema sangat menarik Pak, tapi agak berat untuk saya, rujukannya terlalu banyak. hehehe.
    Atau, pak Ferry aja yang nulis tema itu, gimana ?๐Ÿ˜€

  15. rika said

    Saya lebih suka membaca dari pada mendengarkan

  16. farhan said

    asw.
    saya suka membaca dan mendengar sesuatu yang bisa membuat semangat
    ngomong2 tentang semangat,
    alhmdllah saya telah menyelesaikan ebook motivasi versi gratis
    bagi yang ingin memilikinya, ga usah malu-malu
    untuk pesan melalui email saya.
    tq.
    http://www.farhan.at.hm
    http://www.google.co.id
    http://www.yakin.net.tc

  17. farhan said

    oia
    silahkan kirim2 pesan lewat situs saya
    kalo ada yang ingin membuat situs atau buku digital,
    kami menerima jasa pembuatannya.
    murah kok cuma 200ribu rupiah, plus bonus pulsa
    50ribu. pesan sebelum tanggal 10maret2007

    pesan ke email farhan_387@yahoo.com
    atau call 02519158221

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: