kuliah sambil “nunggu” anak kuliah

Saya ikut bangga melihat para pejabat setempat ramai-ramai aktualisasi diri, menambah pengetahuan, … kuliah lagi ke seberang pulau, bertajuk “peningkatan SDM”.
Kiprah tersebut diikuti mulai muda hingga paruh baya, kepala dinas hingga camat dan orang-orang pemerintah kota.
Siapa sih yang tidak bangga melihat para petinggi memberi contoh bagus kepada rakyatnya.
Selain gencar kampanye meningkatkan SDM, di sela kesibukannya menyempatkan belajar lagi … Hebaattt.
Salah satu anggota kloter adalah tetangga depan rumah, yang berangkat ke kampusnya di seberang pulau 3 bulan sekali.
… mungkin kuliah jarak jauh …

Suatu ketika iseng-iseng saya bertanya: ” kuliah jarak jauh ya ?”
Beliau menjawab: ” iya lah … “.
Saya: ” wah hebat, … pakai internet … e-learning dong ?”
Beliau: ” ah sampeyan ini ada-ada aja, … komputer yang makai kan anak-anak “.
Saya : ” bisa pakai punya kantor to …”, masih ngeyel.
Beliau: ” yang itu dipakai anak buah … “.
Sambil bercanda saya berkata lirih: ” pakai jurus kebatinan nih …”.
Beliau tertawa, kemudian berbisik:
” para bos rajin lho, senin sampai kamis sore di sini, kamis malam sudah terbang ke seberang “.
Saya: ” mestinya gitu dong, kan biasanya kuliahnya ada yang 2 kali seminggu”.
Beliau: ” bukan kuliah … “.
Saya :” ngapain, … emangnya shoping …”.
Beliau: ” nungguin anaknya kuliah … “.
Haaahhhhh …. !?!?!?

Jadi, benarlah kabar burung bahwa para petinggi menjelang pensiun yang membanggakan tersebut bukan kuliah betulan layaknya seorang sarjana mengambil gelar S2 seperti yang saya lihat selama ini.

Sebenarnya kabar tak sedap ini sudah jadi bahan gunjingan, bermula dari rasan-rasan “orang dalam” di lingkungan pemerintah daerah.
Obrolan di atas hanyalah semacam sampel pembuktian.
Seorang kenalan pernah cerita, bahwa dia jadi langganan pembuat makalah ataupun tugas akhir para bos.
Tidak semua seperti gambaran di atas, ada juga yang kuliah sebenar-benarnya kuliah.
Tetapi, bagaimanapun juga oknum-oknum tersebut mencoreng gelar-gelar akademis para ilmuwan yang susah payah meraihnya.

Namanya rasan-rasan, bisa benar bisa juga tidak tergantung bumbu penyedapnya.
Sebagian penggunjing menertawakan tidak nyambungnya gelar pertama dan kedua.
Ah … dasar penggunjing, mungkin iri …
Kalo dipikir-pikir memang ada anehnya juga, ketika melihat antara disiplin ilmu S1, S2 dan jabatan yang diduduki tidak berhubungan sama sekali.
Walau dikatakan oknum, kondisi di atas mengubah kebanggaan menjadi keprihatinan bercampur geli.

Walah kok pusing, namanya juga ” kuliah sambil nunggu anak kuliah“.
Hahaha … sebagian petinggi-petinggi tingkat daerah negeri ini memang betul-betul aktor ulung …
Hebaaattt.

Bagaimana di daerah anda ?
๐Ÿ˜›

10 Komentar »

  1. maknyak said

    hahaha
    namanya kuliah bebas terkendali dong pak…

  2. fulan, said

    @ maknyak,
    walah, jam segini koq ya ada yang sejenis saya nih, hobi melek hehehe
    ah maaf, … lupa bu, di “sana” waktunya beda…
    Ya, 2 kata tersebut sering saya dengar … “bebas terkendali”๐Ÿ™‚

  3. Mbah Keman said

    Bingung kalau dah masalah kuliah,, stress… pinter gak jamin lulus ,,lulus gak jamin pinter… Saya memahami turunya kualitas pendidikan di Negri ini karena orientasi utamnaya cuman untuk cari duit…

  4. fulan said

    @ Mbah keman,
    pinter gak jamin lulus, lulus gak jamin pinter
    Hik, jangan sedih dong Mbah …๐Ÿ˜€

  5. Walah kang… Podo ae…. para penjahat, eh pejabat itu yang pada lanjut S-2 setelah pulang sifatnya gak berubah juga…. gak kerasa hasilnya semuanya niatnya mung cari jabatan dan kekuasaan semata…

  6. fulan said

    @ helgeduelbek,
    Penjahate, eh pejabat S2 ben ketok in-telek kiro-kiro yo … hahaha
    Malah ada yang ujug-ujug jadi S3 lho …
    Tak kira hanya di daerah saya aja …

  7. juliach said

    Nyewek sambil nunggu anak kuliah kali?

  8. fulan said

    @ juliach,
    Nyewek seumur anak gadisnya ya …
    Ntar cari info, siapa tau ada yang gitu betulan
    Hiiy seru dong …๐Ÿ˜€

  9. untung udah nggak kuliah lagi๐Ÿ˜›

    gimana kalo yg ini : ngantor sambil nunggu bubar kantoran๐Ÿ™‚ atau shopping sambil nunggu bubar toko….

    *maksa abis*

  10. fulan said

    @ fertobhades,
    ngantor sambil nunggu bubar kantoran, berarti ngantor-ngantoran.
    atau shopping sambil nunggu bubar toko, berarti ada yang mau dijemput …๐Ÿ˜€
    Bagus juga ya, saya malah gak kepikir.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: