Balada peminta-minta

Menyebut pengemis (demi kemanusiaan, saya ganti peminta-minta), maka yang terbayang adalah orang yang amat sangat papa, tak berdaya, kadang cacat fisik, compang camping atau sejenis itu dan miskin.
Sehari-hari meminta-minta mengharapkan belas kasih orang lain.

Dalam perkembangannya, profesi minta-minta ini menjadi trend, terutama di kota besar. Menjelang lebaran, para peminta-minta musiman tersebut menyerbu kota. Mereka nekat karena penghasilan yang cukup menjanjikan dibanding di tempat asalnya. Kucing-kucingan, dan rela berkejaran adu cepat dengan aparat satpol pp …

Melihat kondisi di atas, sulit membedakan mana peminta-minta betulan dan mana yang gadungan.
Cara kerja mereka konon ada yang mengkoordinir, tapi ada juga yang (bekerja) sendiri.

Nah, di tempat saya lebih parah …..
Ada beberapa tempat di gang-gang tengah kota, menjadi homebase para peminta-minta. Terkoordinir, rapi dan termasuk canggih, karena tidak pernah bisa dirazia walau aparat dan banyak orang mengetahuinya. Konon juga, mereka memberi “setoran”, tapi tak pernah terungkap “kepada siapa” dan “berapa” jumlah setoran perhari.
Lebih hebat lagi, peminta-minta dengan akting membawa bayi sewaan.
Hahhh … bagaimana neteknya, kan balita-balita sewaan tersebut perlu minum …?
Kita ngga perlu kuatir, jaringan mereka sudah mempertimbangkan celah-celah sekecil apapun … botol susu ngga sulit disisipkan di balik kain gendongan.

Pengemis naik pesawat
Klimaks kisah klasik ini adalah salah seorang dari mereka yang bergaya hidup layaknya orang mampu. Betapa tidak, rumahnya tembok, pakai listrik, tv warna 24 inchi dan punya motor…
Pagi berangkat “kerja“, pulang sore. Biasa ditemukan di sekitar pertokoan pusat keramaian kota, dengan pakaian dan akting 180 derajat dibanding saat melihat berangkat dan pulang “kerja”. Dan orangpun ngga bakalan tau ketika malam hari berpapasan di Mall. Bila sakit, bukan berobat ke Puskesmas menggunakan surat keterangan tidak mampu, tapi ke dokter praktek.
Dan yang paling heboh ketika pulang ke kampung halamannya, naik pesawat …..
Hebaaat … hebaaaattt

Rupanya status peminta-minta sekarang menjadi bias.
Menurut rumor ada 3 kategori, yakni:

  1. peminta-minta beneran
  2. peminta-minta terkoordinir (karyawan peminta-minta)
  3. peminta-minta pemaksa

Menurut anda masih ada kategori lain lagi?
Akankah peminta-minta akan (telah) menjadi salah satu pilihan profesi bergengsi?

Haiiiii, bukankah ada peminta-minta berseragam dan bergaji tetap, minta uang administrasi, uang transport, uang berjudul ini…itu…gini…gitu…
Apakah kata “minta” golongan ini termasuk peminta-minta?

13 Komentar »

  1. passya said

    lho..?? bukankah Anda juga gak tau malu selalu jadi ‘peminta-minta’ sama Tuhan Anda???πŸ˜€

  2. fulan said

    @ passya,
    hahaha… betul. Saya menjadi “peminta-minta” paling serakah kepada Tuhan.
    filosofis …πŸ™‚

  3. Baik pengemis sungguhan atau “memprofesikan pengemis” atau pengemis pemeras yang berseragam rapi, itu tidak layak dilakukan. Tempat mengemis kita semua makhluk yang patut hanya pada Tuhan. Itupun kalau kita tidak malu.

  4. Amd said

    Mas, ada satu kategori ‘peminta-minta’ yang kelewat, mereka itu lho yang berdasi, duduk-duduk doang di kursi empuk, sesekali bertengkar nggak jelas, tapi ‘minta-minta’nya macem-macem… Tau kan yang saya maksud?

  5. Thamrin said

    Jangan salah juga, ada peminta-peminta bener yang menjadikan itu profesi dengan penghasilan yang lumayan, punya rumah dan tanah di kampung…πŸ™‚

  6. fulan said

    @ Helgeduelbek,
    Iya pak, mengemis pada Tuhan terasa nyaman, … dan ngga perlu malu.
    Berkali-kali dalam sehari, malah ngga ada batasnya.πŸ˜€

    @ Amd,
    Paham … paham. Peminta-minta kategori spesifik di “wilayah sensitif” tsb, anda aja yang bikin postingannya ya …πŸ™‚

    @ Thamrin,
    Heboh dong, … ketika pulang kampung secara periodik lalu ditanya tetangga tentang pekerjaannya, kira-kira jawabannya apa, mas ?
    Mungkin juga kalo dia nampak makmur, dijadikan donatur tetap tempat ibadah ..πŸ™‚
    Trims kunjungannya.

  7. wadehel said

    Lalu gimana? Selama kita terus ngasih, ya mereka akan terus ada. Dan semakin bertambah.

    Sebenarnya, kita ngasih pengemis untuk apa? Untuk cari pahala? Atau melatih diri untuk berbagi? Emang ga ada cara lain yang efek sampingnya lebih baik?

    Solusi: STOP BERI UANG

    mending transfer saja uangnya ke rekening sayaπŸ˜›

  8. fulan said

    @ wadehel,
    Tujuannya ngga tau untuk apa … Sayang sekali belum pernah nanya para dermawan.
    Ada yang dikasih sekantong beras plus mie … tetep ga mau pergi, ternyata minta uang, … cerdik juga …
    wussssss … *transfer uang*πŸ˜€

  9. Untuk suami yang takut istri :

    “ma, uang jajan hari ini kok dikit ?’
    “emangnya kamu mau ngapain lagi ?”
    “errr… ntar kan mau jalan sama teman sekantor…”
    “nggak boleh, pulang kantor langsung ke rumah…!”

    (lanjutin sendiri aja, saya nggak tega…)πŸ™‚

    *itu juga peminta-minta….sama istri, apalagi kalau malam di ranjang*

  10. fulan said

    @ fertobhades,
    Lha, itu sudah ada lanjutannya di bagian kalimat bawah …
    istri: ” boleh dong pa, ntar pulang jalan tak kasih *ya..ya..ya*…”.
    Yang *itu* mintanya pake ngomong apa pake kode ? … kirain nunggu diberi persembahanπŸ˜€

  11. Mbah keman said

    Wah akhirnya bisa online setelah seminggu tower Ambruk
    kemaren aku minta..bandwitnya di naikan tapi bayarnya tetap apa itu termasuk ya

    Ok.. coment Nih’
    peminta-minta tingkat individu maupun terorganisir itu menjadi hal yang wajar.. itu bukan hal yang menganggetkan…nagi simbah..

    yang lebih mengagetkan adalah ..sebuah Negara yang Kaya. raya. tanah, hutan dan lautan tapi tetep berlagak miskin seperti Negara INDONESIA ,,yang tentu saja kalai pulang dari meminta-minta dari negara barat. dan bank Dunia..itdak hanya naik pesawat tapi disambut dengan fasilitas nomer wahid..kenapa harus malu..

    kita juga warga negara INDONESIA tentunya..anda sekalian keluarga pengemis

  12. Mbah keman said

    Wah akhirnya bisa online setelah seminggu tower Ambruk
    kemaren aku minta..bandwitnya di naikan tapi bayarnya tetap apa itu termasuk ya

    Ok.. coment Nih’
    peminta-minta tingkat individu maupun terorganisir itu menjadi hal yang wajar.. itu bukan hal yang menganggetkan…simbah..

    yang lebih mengagetkan adalah ..sebuah Negara yang Kaya. raya. tanah, hutan dan lautan tapi tetep berlagak miskin seperti Negara INDONESIA ,,yang tentu saja kalai pulang dari meminta-minta dari negara barat. dan bank Dunia..itdak hanya naik pesawat tapi disambut dengan fasilitas nomer wahid..kenapa harus malu..

    kita juga warga negara INDONESIA tentunya..anda sekalian keluarga pengemis

  13. fulan said

    @ Mbah keman,
    ikut berduka atas ambruknya tower, sekarang udah tegak kan Mbah?
    Gantian tempat saya yang lunglai selama seminggu lebih … fakir bandwit.
    Memang aneh ya Mbah, ngemis koq fasilitasnya super canggih.
    Kalo menurut simbah warga indo keluarga pengemis, berarti ngga perlu ngembalikan uang ngemis dong…πŸ˜€
    Saya khawatir ngga bisa ngembaliin uang, lalu sebagai gantinya mbayar hutang pakai barang, misalnya pulau …😦

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: