Kisah seorang wanita terhormat

Bangunan megah itu bernama gedung wakil rakyat.
Tempat para wakil rakyat terbaik ngantor, bekerja, rapat, bersidang (kadang ada juga sih yang disorot tv ketiduran, mungkin lelah setelah kerja teramat sangat keras), ada sidang paripurna, sidang istimewa (bukan berarti ada sidang tidak istimewa), dan berbagai hajat kelembagaan lainnya.
Tempat merumuskan RUU, UU dll, disertai perdebatan demi (rakyat) tentunya …

… ssst (ada bisik-bisik tempat tawar menawar, atau bargaining gitu, tapi bisik-bisik jangan dipercaya, … kalo salah dianggap fitnah)
Tempat warga pilihan yang “tidak” mungkin ada korupsi dan sejenisnya (dijamin)
Yacch pendeknya tempat serba “terhormat” lah … rasanya semua sepakat soal itu …
Handsome, gentle … begitu ada kekhilafan “dikit” aja, langsung mundur seperti di Korea, Jepang …

Makanya pak wakil presiden memuji setinggi langit ketika ada kadernya yang “khilaf dikit” lalu mengundurkan diri … sungguh gentle … seperti penonton bola memuji Ronaldinho saat mencetak gol akrobatik
Suasana rapat, ah namanya tempat terhormat, sungguh sangat santun … tak kan terlihat otot-ototan, tuding-tudingan, apalagi sampai saling dorong dan jotosan … nggak bakal ada … percayalah … santun

Dan para penghuninya, kita mafhum, adalah sosok hebat dari kader partai pilihan rakyat, sekali lagi pilihan rakyat … jadi jangan sangsikan lagi kapabilitas kekaderan di partainya … artinya partai adalah kawah candradimuka …
Dan sebagai ajang pendadaran, partai dipimpin oleh para politisi handal dalam segala hal, dapat dipercaya, pandai, selalu ingat akan janji saat kampanye, mengedepankan kepentingan bangsa dan amat tinggi tataran moralnya, jangan pernah sangsikan itu ..
Kalau ada satu atau dua (jangan dilanjutkan 3,4,5 ya) … itu adalah “oknum” sekali lagi oknum saudara-saudara …

Makanya ketika detiknews memuat obrolan “sedap-sedap” menyangkut petinggi partai yang nantinya menjadi calon kepala daerah atau penghuni gedung megah, saya tidak percaya, mana mungkin sih … oknum atau isu belaka.
Bila masih sangsi, silahkan baca kusak-kusuk detiknews ini …..
Nah apa saya bilang, … hanya berita burung tak berujung, hanya kusak-kusuk tak berbentuk kan ….

Karenanya, bila ada kabar tak sedap (menyangkut partai atau lembaga terhormat) tanpa bukti, saya tidak percaya, saudara-saudara juga jangan percaya …

Percayalah, ditangan beliau-beliaulah kesejahteraan negeri ini kita gantungkan …
Tidak mungkin para politisi kita yang menjunjung tinggi adat ketimuran akan bertindak cela, tidak mungkin …. sekali lagi “tidak” mungkin saudara-saudara…

πŸ™‚

6 Komentar »

  1. Mbah keman said

    Mas . namanya manusi.a. itu tempatnya lupa dan sengaja .. tindakan mengundurkan diri itu kalau saya kurang jantan. kalau saya jadi pimpinan terus ada anak buah saya yang berbuat salah, kemudian dia malu dan saya marahi habis-habisan ehkk besoknya minta mundur.. jagan harap dapat restu dari saya..” saya bilang langakahi dulu mayatku kalau mau mundur” kamu ini pengecutt… berani berbuat berani tanggung jawab.. tunggu intruksi PHK dari saya OK

  2. fulan said

    @ (kagem) Mbah Keman,
    iya ya Mbah, mestinya begitu, tapi yang “ngendiko” bpk wkl pereksident (nw sewu niru istilah di:padamu negeri ooh) lho, panutannya yang manuti .
    PHK yg beginian dapat pensangon apa mbayar denda?
    Maturnuwun kunjungannya Mbah …πŸ™‚

  3. Mbah keman said

    Nah kalau di PHK..Ehm Kan harus…. kasih pesangon ya!? ya itung jasa-jasa yang di pecat di haragai..tapi kalau mengundurkan diri.. Kesananya jantan Itu lho yang tidak saya suka.. wong salah di anggap jantan,, Geger- goro2

  4. fulan said

    @ Mbah Keman,
    lho koq saya tambah bingung … ooooo mungkin anu mbah, karena menyangkut “kejantanan”, trus dianggap jantan gitu … saya juga ngga tau apakah “mengundurkan diri itu kalimat “politik” atau kalimat “sebenarnya” … kan rapatnya di dalam ruangan dan kita juga ngga diundang rapat (mungkin lupa ngundang ya) …
    Siapa tau di SK nya tertulis “dipecat dengan tidak hormat” … wah saya jadi ngaco
    … goro2πŸ˜€

  5. Dimanapun kalau ada keburukan yg dilakukan sesorang dalam suatu lembaga pasti disebut oknum yah… tapi kalau kebaikan bukan di katakan oknum, tapi dikatakan itu lembaga x. Anehnya tindakan tidak senonoh anggota dewan itu tidak lagi disebut oknum, apakah lembaga yg bersangkutan sering bertindak tidak senonoh juga.

  6. fulan said

    @ helgeduelbek, …(sekarang saya fasih nulis huruf ini)
    Wah kalo yang kalimat kedua, saya tidak tau pak… sepengetahuan saya beliau-beliau yang terhormat itu bernaung di gedung yang terhormat pula, mustinya (yang benar musti apa mesti sih) lembaganya juga terhormat … Tapi TII konon menyebut sebagai salah satu lembaga terkorup … padahal terhormat kan?
    Pernah punya pengalaman “menarik” berkunjung ke lembaga itu di kota bapak ngga?
    hehehe komen bapak meng-inspirasi saya untuk bikin postingannya … tengkyu

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: