pro-kontra Poligami di Hari Ibu ke 78

Sabtu, 22 Desember 2006 kemarin kita memperingati Hari Ibu ke 78. Melihat kejadian terakhir menyangkut kaum wanita, sudah diduga peringatan Hari Ibu tahun ini … bakalan rame … !

“Saya melihat, perempuan Indonesia merupakan potensi dan aset yang luar biasa. Tidak saja karena melihat jumlahnya, tetapi juga karena kecenderungan watak dan karakternya yang terbuka, tekun, penyabar dan jujur,” demikian kutipan pidato Presiden RI, bapak SBY di TMII seperti diberitakan media.

Ternyata rame betulan …
Beberapa waktu lalu, di awal reformasi kita dihentak oleh gerakan para wanita Indonesia yang menuntut “penyetaraan” gender. Bukan saja masalah perlakuan dan kesempatan secara umum, bahkan masuk ke wilayah politik dan kekuasaan. Menurut saya, gerakan tersebut mulai menuai buah, terbukti dengan munculnya kepala daerah wanita yang di jaman orba amat sangat tabu. Kepala instansi wanita, bukan lagi pemandangan luar biasa, anggota legislatif wanita makin banyak. Pendeknya, wanita setara dengan pria dalam pengambilan keputusan di ranah tersebut. Mungkin belum memenuhi quota tuntutan, namun waktu jua yang akan mengarah ke sana, di samping kemauan wanita sendiri.
Di tengah perkembangan menuju proses penyataraan gender, masalah gender ramai lagi dibicarakan hingga ke kampung-kampung seiring mencuatnya isu Poligami.
Di sinilah hiruk pikuk … “pro-kontra kesetaraan” muncul lagi dengan konteks berbeda.
Sebagian wanita “mendukung” “penuh”, sebagian lainnya “menentang” poligami. Sudah barang tentu masing-masing mengeluarkan “jurus sakti” sebagai dasar sikapnya. Namanya dukung mendukung, tak heran perbedaan sikap tersebut memunculkan letupan-letupan.
Rupanya himbauan “cooling down”, tak mampu meredakan pembicaraan poligami.

Nah, disaat Hari Ibu ke 78 diperingati dengan mengambil tema; “Dengan Hari Ibu ke 78, Kita Budayakan Kesetaraan dan Keadilan Gender”, para Pejabat Negara dan beberapa Dubes negara sahabat yang hadir, disuguhi dua kelompok demo, satu kelompok menyuarakan “Pro Poligami” plus “menentang kesetaraan”, kelompok lainnya “menentang Poligami“, lengkap dengan spanduknya.

Entah apa di benak para duta besar yang hadir.
Kalo toh diwawancarai kemungkinan memberikan jawaban diplomatis.
Yang saya pikirkan:
Apa ibu-ibu itu tidak diantar suaminya?
Atau mungkin diantar suami?
Jika diantar, di mana mereka (para suami)?
Ngumpul di tempat pemberangkatan atau nonton di sekitar TMII?
Jangan-jangan para suami kedua kubu tersebut malah kongkow-kongkow sambil makan bakso bersama …. ha hahahaha.
ohhh poligami ….

1 Komentar »

  1. Anonim said

    iiy78ttttfdevd

    gkjukkk65
    8g5 8uh

    fh54hyh

    iu
    ii]

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: